Total Tayangan Laman

Senin, 01 Maret 2010

PERAWATAN PASIEN YANG TERPASANG ENDOTRACHEAL TUBE

PERAWATAN PASIEN
YANG TERPASANG ENDOTRACHEAL TUBE (Bagian II)


Pendahuluan
Intubasi endotrakeal mencakup memasukkan selang endotrakeal melalui mulut atau hidung ke dalam trakea. Intubasi memberikan jalan nafas yang paten saat pasien mempunyai gawat nafas yang tidak dapat diatasi dengan metode yang lebih sederhana. Intubasi endotrakeal adalah cara pemberian jalan nafas bagi pasien yang tidak dapat mempertahankan sendiri jalan nafas yang adekuat (pasien koma, yang menderita obstruksi jalan nafas), untuk ventilasi mekanis, dan untuk pengisapan sekresi dari bronkial.

1. Pengertian
Perawatan Endotracheal tube adalah perawatan rutin yang membutuhkan perawatan posisi dari selang yang benar dan memelihara hygiene dengan baik pada pasien yang terpasang endotracheal tube.

2. Organ-organ yang terlibat dalam tindakan
Organ-organ yang terlibat dalam tindakan perawatan pasien tersebut antara lain mulut, orofaring dan trachea.

3. Indikasi perawatan
• Indikasi
Pasien yang terpasang endotracheal tube.
• Kontraindikasi
Tidak terdapat kontra indikasi yang absolute pada perawatan pasien yang terpasang endotracheal tube.

4. Konsep Fisiologi tindakan terhadap tubuh
Suatu selang endotrakeal biasanya dimasukkan dengan bantuan laringoskop oleh tenaga medis, keperawatan, atau terapi pernafasan yang secara khusus dilatih dalam teknik ini. Bila selang telah dipasang, cuff di sekeliling selang dikembangkan untuk mencegah kebocoran udara sekitar bagian selang dan untuk meminimalkan kemungkinan akibat aspirasi dan mencegah gerakan selang.
Hampir semua ETT memiliki cuff berupa balon yang bisa dikembangkan dari luar menggunakan spuit kecuali ETT bayi, tekanan balon pada dinding trakea dapat menyebabkan hipoksi epitel mukosa trakea. Epitel ini mudah terinfeksi hingga terjadi erosi mukosa trakea.
Di samping efek pada pangkal lidah, laring dan trachea, pemasangan ETT juga meniadakan proses pemanasan dan pelembaban udara inspirasi kecuali pasien dipasang ventilasi mekanik dengan humidifikasi yang baik. Perubahan ini menyebabkan gagalnya silia mukosa bronkus mengeluarkan partikel-partikel tertentu dari paru. Discharge trakea berkurang dan menjadi kental, akhirnya terjadi metaplasia skuamosa pada epitel trakea.
Penumpukan sekresi mucus dapat terjadi pada jalan nafas setelah terpasangnya ETT. jika tidak mendapat perhatian, maka akan dapat menyumbat bersihan jalan nafas kemudian berpengaruh pada pola nafas pasien. Nafas pasien terdengar stridor dan dispneu. Oleh karena itu persiapan alat penghisap atau suction sangat dibutuhkan pada permasalahan tersebut.
Pengisapan sekresi endotrakeal dilakukan melalui selang. Oksigen yang dihangatkan, dilembabkan harus selalu dimasukkan melalui selang, apakah pasien bernafas secara spontan maupun dalam ventilator. Intubasi endotrakeal dapat digunakan sampai 3 minggu, yang pada waktu tersebut trakeostomi harus dianggap dapat menurunkan iritasi dan trauma pada lapisan trakea, untuk mengurangi angka kejadian paralisis pita suara (sekunder terhadap kerusakan saraf laring), dan untuk mengurangi ruang rugi mekanis.
Kerugian yang terdapat pada selang endotrakeal atau trakeostomi sama halnya seperti kerugian yang terdapat pada modalitas pengobatan lainnya. Satu yang paling nyata adalah, bahwa selang menyebabkan rasa tidak nyaman. Selain itu, refleks batuk ditekan karena penutupan glotis dihambat. Sekresi cenderung untuk lebih mengental karena efek penghangatan dan pelembaban saluran pernafasan atas telah dipintas. Refleks-refleks menelan, yang terdiri atas refleks glotis, faring, dan laring tertekan karena tidak digunakan dalam waktu lama dan trauma mekanis akibat selang endotrakeal atau trakeostomi, yang membuat klien semakin berisiko aspirasi. Ulserasi dan striktur laring atau trakea dapat terjadi. Kekhawatiran pasien yang paling besar adalah ketidakmampuan untuk berbicara dan mengkomunikasikan kebutuhan.

5. Prinsip pencegahan infeksi
Pada penderita dengan intubasi di mana ETT merupakan benda asing dalam tubuh pasien sehingga sering menjadi tempat ditemukan berbagai koloni bakteri, yang sering ialah Pseudomonas aeruginosa dan kokus gram positif.
Pada fiksasi ETT juga sering kali menimbulkan penekanan pada salah satu sisi bibir pasien sehingga bisa menyebabkan luka/nekrotik sebagai penyebab masuknya kuman ke dalam tubuh pasien.
Mengingat besarnya pengaruh tidak baik pemasangan ETT terhadap tubuh pasien maka diperlukan perawatan ETT yaitu:
1) Fiksasi harus baik, plester jangan terlalu tegang.
2) Pipa ET sebaiknya ditandai pada ujung mulut tercabut.
3) Pantau tekanan balon, jangan lebih dari 30 cm H2O.
4) Jaga patensi jalan napas dengan humidifikasi yang atau hidung sehingga bisa untuk mengetahui secara dini pipa kedalaman atau baik dan adekuat udara inspirasi.
5) Lakukan penghisapan lendir jika berlebih dan jika diperlukan lakukan bronchiale toilet untuk mencegah penumpukan slym.
6) Reposisi atau pindah-pindahkan penempatan pipa ET dari satu sisi mulut pasien ke sisi lainnya sesuai kebutuhan.

6. Prinsip / hal lain untuk tindakan tersebut
Perawatan intubasi
1) Fiksasi harus baik
2) Gunakan oropharing air way (guedel) pada pasien yang tidak kooperatif
3) Hati-hati pada waktu mengganti posisi pasien.
4) Jaga kebersihan mulut dan hidung
5) Jaga patensi jalan napas
6) Humidifikasi yang adekuat
7) Pantau tekanan balon
8) Observasi tanda-tanda vital dan suara paru-paru
9) Lakukan fisioterapi napas tiap 4 jam
10) Lakukan suction setiap fisioterapi napas dan sewaktu-waktu bila ada suara lender
11) Yakinkan bahwa posisi konektor dalam kondisi baik
12) Cek blood gas untuk mengetahui perkembangan.
13) Lakukan foto thorax segera setelah intubasi dan dalam waktu-waktu tertentu.
14) Observasi terjadinya empisema kutis
15) Air dalam water trap harus sering terbuang
16) Pipa endotracheal tube ditandai diujung mulut / hidung.

7. Hal yang perlu dikaji sebelum tindakan
- Kaji tanda-tanda vital
- Kaji adanya suara stridor pada pasien dan adanya secret yang menyumbat jalan nafas
- Kaji sumber oksigen atau ventilator
- Kaji tekanan pada balon
- Kaji adanya lecet ataupun nekrosis pada mulut atau mukosa membrane
- Kaji letak ET tube dari rontgen dada

8. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul
 Ketidakefektifan bersihan jalan napas
 Kerusakan ventilasi spontan
 Resiko infeksi
 Ketidakefektifan pola nafas
 Kerusakan Integrits kulit
 Kerusakan pertukaran gas
 Kerusakan menelan
 Resiko aspirasi

9. Outcomes yang ingin dicapai
− Jalan udara klien bersih
− Oksigenasi adekuat dipertahankan seperti yang ditunjukkan pada hasil AGD
− Tidak terjadi infeksi pernafasan atau terjadi perbaikan setelah pipa dipasang
− Kulit dan mukosa oral sekitar pipa endotracheal bersih dan utuh
− Tidak terjadi kerusakan / nekrosis akibat pipa atau cuff.


10. Persiapan
Persiapan Alat
− Suction
− Kateter penghisap dengan ukuran yang sesuai
− Mangkok steril
− Handuk
− Perlak karet
− Sarung tangan
− Ambu bag dengan penghubung ke sumber oksigen
− Plester adhesive / tahan air
− Gunting
− Hydrogen peroksida
− Sikat pembersih jalan udara mulut

Persiapan Lingkungan
− Ciptakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman serta kooperatif
− Siapkan sampiran atau sketsel

Persiapan Pasien
− Informasikan keluarga tentang tindakan yang akan dilakukan
− Posisikan klien terlentang, atau miring pada pasien tidak sadar.
− Pastikan pasien dalam keadaan aman untuk dilakukan tindakan

11. Prosedur kerja
1) Kaji status pernafasan klien termasuk kebutuhan akan penghisapan dan perawatan endotracheal
Rasional : pengumpulan data untuk perawatan optimal
2) Letakkan semua alat di dekat pasien
Rasional : mempertahankan efisiensi
3) Bantu klien untuk mengambil posisi semi fowler atau posisi terlentang. Posisi miring untuk klien yang tidak sadar.
Rasional : Meningkatkan dan mempertahankan kenyamanan pasien. Posisi miring pada pasien tidak sadar mengurangi resiko aspirasi
4) Jika diperlukan, hubungkan selang pada selang penghubung ke alat penghisap
Rasional : Memberikan terapy suction dengan cepat saat dibutuhkan
5) Bentangkan handuk diatas dada pasien
Rasional : melindungi pakaian dan pasien
6) Saat membuka set atau peralatan penghisap, jika membuka alat-alat yang dibutuhkan untuk membersihkan pipa endotrachal:
a) Atur peralatan penghisap
b) Buka dan letakkan alat-alat hygiene oral, termasuk lap, handuk dan baskom
c) Tuangkan 50 ml hydrogen peroksida steril ke dalam kom sedang.
7) Pasang handscoon bersih
8) Lakukan tindakan penghisapan
Rasional : membersihkan jalan udara
9) Siapkan selalu kateter penghisap yang steril
10) Minta bantuan perawat lain untuk menahan pipa endotracheal dengan kuat di tempatnya pada garis bibir klien
11) Lepaskan semua plester sekitar pipa dengan hati2 dan cermat, kemudian buang di bengkok
Rasional : memungkinkan untuk hygiene kulit oral. Plester dapat menyebabkan iritsi kulit
12) Jika terpasang jalan udara oral lepaskan dan letakkan dalam mangkok yang berisi hydrogen peroksida
Rasional : memungkinkan untuk akses ke dalam rongga mulut ketika alat jaln udara direndam
13) Lakukan oral hygiene pada sisi mulut yang tidak terhalang oleh pipa,gerakkan dengan perlahan kemudian bersihkan sisi yang lain
14) Basuh wajah dan area sekitar leher menggunakan waslap bersabun, bilas dengan air basah, dan keringkan menggunakan handuk.
15) Dengan sikat, bersihkan jalan udara oral dan bilas dengan bersih menggunakan air. Buang air yang sudah digunakan.
16) Pasang kembali plester anti air atau plaster adhesive secara tepat dan cermat
17) Pasang kembali jalan udara oral dengan tepat
18) Atur kembali posisi klien
Rasional : mempertahankan kenyamanan pasien
19) Rapikan semua peralatan, lepaskan sarung tangan dan buang di tempat yang disediakan.
Rasional : meminimaliasi penyebaran mikroorganisme
20) Evaluasi status pernafasan klien
21) Evaluasi kenyamanan klien
22) Perawat mencuci tangan
23) Dokumentasikan kegiatan

12. Evaluasi
- Bandingkan dan kaji pernafasan sebelum dan sesudah dilakukan ET tube care.
- Observasi kedalaman dan posisi ET Tube sesuai rekomendasi dokter.
- Pastikan fiksasi sudah kuat sehingga tidak memungkinkan terjadinya perubahan posisi tube.
- Kaji kulit sekitar mulut dan keutuhan mukosa oral membran dan penekanan area.

Dokumentasi
Dokumentasikan tindakan sebelum dan sesudah perawatan, alat-alat yang digunakan, toleransi pasien terhadap prosedur, kesesuaian kedalama ET tube, lama dilakukannya perawatan ET tube, keutuhan mukosa oral, perawatan nyeri tekan jika dibutuhkan, waktu ketika prosedur dilakukan, kesulitan yang dihadapi, serta tanda tangan perawat pelaksana.

13. Pendidikan pasien dan keluarga
- Instruksikan klien dan keluarga untuk tidak menggerakkan ET tube, plester, atau pemegang ET tube. Jika klien mengeluh atau nampak tidak nyaman, instruksikan keluarga bertanya pada perawat.
- Informasikan pada klien dan keluarga bahwa jika tube menyebabkan sumbatan, untuk segera memberitahukan kepada perawat dan intervensi akan dilakukan untuk mengurangi sumbatan.



DAFTAR PUSTAKA

Asih, Ni Luh Gede Yasmin, 2003, Keperawatan Medical bedah,Klien Dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta:EGC
Carpenito L.J, 2000, Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8, Jakarta : EGC.
Direktorat Keperawatan dan Keteknisian Medik, 2005, Standar Pelayanan Keperawatan di ICU, Jakarta : Dir Jen Pelayanan Medik Dep.Kes RI
Hudak & Gallo, 1997, Keperawatan Kritis : Pendekatan Holistik, Volume 1, Edisi VI, Jakarta : EGC.
Linelle N.B.Pierce, 1995, Mechanical Ventilation and Intensive Respiratory Care, Philadelpia : W.B.Saunders
Mancini E, 1994, Seri pedoman Praktis .Prosedur Perawatan Darurat.. Jakarta : EGC
Instalasi Rawat Intensif & Reanimasi, SMF Anestesiologi dan Reanimasi RSUP Dr. Soetomo, 2007, Materi Pelatihan Intensif Care Unit (ICU), Surabaya : Bidang Diklit RSUP Dr. Soetomo.
Potter & Perry, 2002, Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses, dan Praktik Volume 2, Edisi 4, Jakarta: EGC
Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, 2001, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth, Edisi 8, Jakarta : EGC.

PEMASANGAN DAN PERAWATAN PASIEN DENGAN OROPHARYNGEAL TUBE

PEMASANGAN DAN PERAWATAN
PASIEN DENGAN OROPHARYNGEAL TUBE (BAGIAN 1)
Oleh : Ni Luh Suciati

A. Pengertian
Oropharyngeal tube adalah sebuah tabung / pipa yang dipasang antara mulut dan pharynx pada orang yang tidak sadar yang berfungsi untuk membebaskan jalan nafas. (Medical Dictionary)
Pembebasan jalan nafas dengan oropharyngeal tube adalah cara yang ideal untuk mengembalikan sebuah kepatenan jalan nafas yang menjadi terhambat oleh lidah pasien yang tidak sadar atau untuk membantu ventilasi (Sally Betty,2005)
Oropharyngeal tube adalah alat yang terbuat dari karet bengkok atau plastik yang dimasukkan pada mulut ke pharynx posterior untuk menetapkan atau memelihara kepatenan jalan nafas. (William dan Wilkins).
Pada pasien tidak sadar, lidah biasanya jatuh ke bagian pharynx posterior sehingga menghalangi jalan nafas, sehingga pemasangan oropharyngeal tube yang bentuknya telah disesuaikan dengan palatum / langit-langit mulut mampu membebaskan dan mengedarkan jalan nafas melalui tabung / lubang pipa. Dapat juga berfungsi untuk memfasilitasi pelaksanaan suction. Pembebasan jalan nafas dengan oropharingeal tube digunakan dalam jangka waktu pendek pada post anastesi atau langkah postictal. Penggunaan jangka panjang dimungkinkan pada pasien yang terpasang endotracheal tube untuk menghindari gigitan pada selang endotraceal.

B. Organ-organ yang terlibat dalam oropharyngeal airway
1. Nasofaring (terdapat pharyngeal tonsil dan Tuba Eustachius)
2.Orofaring (merupakan pertemuan rongga mulut dengan faring,terdapat pangkal lidah)
3. Laringofaring(terjadi persilangan antara aliran udara dan aliran makanan)

C. Indikasi dan Kontra Indikasi
1. Indikasi
Adapun indikasi pemasangan oropharyngeal tube adalah sebagai berikut :
a. Pemeliharaan jalan nafas pasien dalam ketidaksadaran,
b. Melindungi endotracheal tube dari gigitan,
c. Memfasilitasi suction pada jalan nafas

2. Kontra indikasi
Tidak boleh diberikan pada pasien dengan keadaan sadar ataupun semi sadar karena dapat merangsang muntah, spasme laring.
Harus berhati-hati bila terdapat trauma oral.

D. Konsep Fisiologi / Pengaruh Terhadap Tubuh
Pemasangan oropharengeal tube meniadakan proses pemanasan dan pelembaban udara inspirasi kecuali pasien dipasang ventilasi mekanik dengan humidifikasi yang baik. Perubahan ini menyebabkan gagalnya silia mukosa bronkus mengeluarkan partikel-partikel tertentu dari paru. Discharge trakea berkurang dan menjadi kental, akhirnya terjadi metaplasia skuamosa pada epitel trakea.
Pada penderita dengan bantuan jalan nafas oropharyngeal ini merupakan benda asing dalam tubuh pasien sehingga sering menjadi tempat ditemukan berbagai koloni bakteri, yang sering ialah Pseudomonas aeruginosa dan kokus gram positif. Pada fiksasi oropharyngeal tube juga sering kali menimbulkan penekanan pada salah satu sisi bibir pasien sehingga bisa menyebabkan luka/nekrotik sebagai penyebab masuknya kuman ke dalam tubuh pasien.

E. Prinsip Pencegahan Infeksi
Untuk pencegahan infeksi, digunakan prosedur yang bersih baik itu dari peralatan dan juga lingkungan bersih dalam melakukan prosedur tindakan. Untuk perawatan, jaga kebersihan mulut setiap 2 sampai 4 jam jika dibutuhkan.
Oropharyngeal tube dapat direndam di baskom yang telah diisi air kemudian dibilas dengan larutan hydrogen peroxida dan air.

F. Prinsip / Hal Lain Untuk Pemasangan Oropharyngeal tube
− Cara pemasangan yang tidak tepat dapat mendorong lidah ke belakang atau apabila ukuran terlampau panjang, epiglotis akan tertekan sehingga menyebabkan jalan nafas tersumbat
− Hindarkan terjepitnya lidah dan bibir antara gigi dan alat
− Jangan gunakan alat ini pada pasien dimana refleks faring masih ada karena dapat menyebabkan muntah dan spasme laring.

G. Hal Yang Dikaji Sebelum Tindakan
Hal yang dikaji sebelum tindakan pemasangan oropharyngeal tube
Pastikan pasien dalam keadaan tidak sadar. Pemaksaan pemasangan alat ini akan menimbulkan “gag reflek” atau muntah yang mungkin menyebabkan aspirasi.
Perhatikan dan ukur besarnya oropharyngeal tube yang akan dipakai


H. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul
1) Kerusakan pertukaran gas spontan
2) Ketidakefektifan bersihan jalan nafas
3) Kerusakan menelan
4) Resiko infeksi

I. Outcome Yang Ingin Dicapai Dari Pemasangan Oropharingeal Tube
Tujuan pemasangan oropharyngeal tube adalah :
Menjaga kepatenan jalan nafas pasien,

Tujuan perawatan orupharyngeal tube adalah :
Menjaga jalan nafas tetap paten
Mencegah terjadinya infeksi

J. Persiapan Alat, Lingkungan dan Pasien Sebelum Terapi Oksigen Diberikan
1. Persiapan Alat
− Mayo / Guidel / oropharyngeal tube berbagai ukuran
− Sarung tangan
− Plaster
− Bengkok
− Tounge spatel
− Kasa
− Suction
− Selang penghisap

2. Persiapan Lingkungan
− Ciptakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman serta kooperatif
− Siapkan sampiran atau sketsel

3. Persiapan Pasien
− Informasikan keluarga tentang tindakan yang akan dilakukan
− Posisikan klien terlentang, upayakan sedekat mungkun dengan bagian atas empat tidur
− Pastikan pasien dalm keadaan aman untuk dilakukan tindakan
− Pastikan tidak terdapat reflek faring

K. Prosedur Tindakan Pemasangan oropharyngeal tube
1) cuci tangan, gunakan sarung tangan.
2) pilihlah ukuran airway yang sesuai dengan pasien. Hal ini mungkin dilakukan dengan menempatkan jalan napas di pipi pasien dengan bagian datar di bibir. Ujung dari jalan napas harus ada di dagu pasien.
3) Masukkan jalan napas dengan mengikuti salah satu cara dibawah ini.
Balik jalan napas sehingga bagian atasnya menghadap kemuka. Mulai untuk memasukkan jalan napas ke mulut. Sebagaimana jalan napas mendekati dinding posterior Faring dekat lidah belakang, putar jalan napas pada posisi yang seharusnya (180 º)
Gunakan penekan lidah , gerakkan lidah keluar untuk menghindari terdorong ke belakangmasuk faring posterior. Masukkan jalan napas oral ke dalam posisi
yang seharusnya dengan bagian atas masuk kebawah dan tidak perlu diputar.

4) Jika reflek cegukan pasien terangsang, cabut jalan nafas dengan segera dan masukkan kembali.
5) Fiksasi jalan napas dengan plester dan letakkan di pipi dan melintasi bagian datar dari jalan napas, pada bibir pasien. Jangan menutupi bagian terbuka dari jalan napas. Harus berhati- hati untuk menjamin pasien tidak cegukan terhadap jalan napas ketika direkatkan pada tempatnya. Perekatan dapat mencegah pasien dari dislokasi jalan napas dan karena itu pasien muntah segera setelah ia sadar kembali.

Prosedur perawatan oropharyngeal tube
1) Cuci tangan , gunakan sarung tangan, lakuka perawatan oral pada sisi rongga mulut yang tidak terhalang oleh pipa
2) Perhatikan tanda panjang pipa dalam sentimeter dengan acuan bibir pasien
3) Pegang pipa dalam tanda tersebut dan dengan hati-hati dan cermat gerakkan pipa kesisi lain dari mulut pasien.
4) Pastikan bahwa tanda acuan tetap sama.
5) Gunakan penghisap oral sesuai kebutuhan
6) Atur kembali posisi klien
7) Rapikan semua peralatan, lepaskan sarung tangan dan buang di tempat yang disediakan.
8) Evaluasi status pernafasan klien, kenyamanan klien
9) Perawat mencuci tangan

L. Evaluasi
1) Kaji status neurologi pasien secara berkala. Jalan napas dapat menyebabkan muntah-muntah pada pasien yang sensitif dan karenanya harus digunakan hanya pada pasien tidak sadar.
2) Monitor pasien dari penumpukan sekresi oral dan penghisapan rongga mulut
3) Jika keadaan pasien memungkinkan, pemakaian jangka panjang memerlukanpelepasan jalan napas untuk memberikan perawatan oral.

Dokumentasi
1. Catat ukuran dari jalan napas yang digunakan
2. Catat waktu prosedur dilakukan dan toleransi pasien
3. Catat setiap perubahan dalam status pasien dan atau setiap komplikasi
4. Catat kecepatan dan sifat dari pernapasan.

M. Pendidikan yang Perlu Diberikan pada Pasien dan Keluarga

Instruksikan klien dan keluarga untuk tidak menggerakkan Oropharyngeal tube, plester, atau pemegang oropharyngeal tube. Jika klien mengeluh atau nampak tidak nyaman, instruksikan keluarga bertanya pada perawat.
Informasikan pada klien dan keluarga bahwa jika tube menyebabkan sumbatan, untuk segera memberitahukan kepada perawat dan intervensi akan dilakukan untuk mengurangi sumbatan.

OXYGEN THERAPY (TERAPI OKSIGEN)

TERAPI OKSIGEN UNTUK KEPERAWATAN
Oleh : Ni Luh Suciati

Pendahuluan
Oksigen (O2) merupakan komponen gas yang sangat berperan dalam proses metabolisme tubuh untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel tubuh secara normal. Oksigen diperoleh dengan cara menghirup udara bebas dalam setiap kali bernafas. Dengan bernafas setiap sel tubuh menerima oksigen, dan pada saat yang sama melepaskan produk oksidasinya. Oksigen yang bersenyawa dengan karbon dan hidrogen dari jaringan memungkinkan setiap sel melangsungkan proses metabolismenya, oksigen hasil buangannya dalam bentuk karbondioksida (CO2) dan air (H2O).
Oksigen adalah gas dengan rumus O2, tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau, dan mudah terbakar, merupakan komponen dari kerak bumi; zat asam; unsur dengan nomor atom 8, berlambang O, dan bobot atom 15,9994. Merupakan bahan farmakologik, digunakan dalam proses pembakaran (oksidasi).
Oksigen pertama kali ditemukan oleh Yoseph Prietsley di Bristol Inggris tahun 1775 dan diberi nama oleh Lavoiser, dipakai dalam bidang kedokteran oleh Thomas Beddoes sejak awal tahun 1800. Alvan Barach tahun 1920 mengenalkan terapi oksigen pasien hipoksemia dan terapi oksigen jangka panjang pasien penyakit paru obstruktif kronik. Chemiack tahun 1967 melaporkan pemberian oksigen melalui kanula hidung dengan aliran lambat pasien hiperkapnia dan memberikan hasil yang baik tanpa retensi CO2.
Penyampaian O2 ke jaringan tubuh ditentukan oleh interaksi sistem respirasi, kardiovaskuler dan keadaan hematology / hemoglobin (transport oksigen). Bila terjadi gangguan pada salah satu sistem transports oksigen, bisa mengakibatkan gangguan oksigen jaringan.
Adanya kekurangan O2 ditandai dengan keadaan hipoksia, yang dalam proses lanjut dapat menyebabkan kematian jaringan bahkan dapat mengancam kehidupan. Klien dalam situasi demikian mengharapkan kompetensi perawat dalam mengenal keadaan hipoksemia dengan segera untuk mengatasi masalah.
Oksigen dikatakan dan diperlakukan sebagai obat, serta bukan sebagai pengganti pengobatan lain dan harus digunakan hanya jika ada indikasi. Oksigen mahal dan memiliki efek samping yang berbahaya. Sebagaimana penggunaan obat, dosis atau konsentrasi oksigen harus dipantau secara kontinyu. Perawat harus memeriksa rutin program dokter untuk memverifikasi bahwa klien menerima oksigen dengan konsentrasi yang diprogramkan. Lima benar pemberian obat juga berlaku untuk pemberian oksigen
Pemberian terapi O2 dalam asuhan keperawatan, memerlukan dasar pengetahuan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi masuknya O2 dari atmosfir hingga sampai ke tingkat sel melalui alveoli paru dalam proses respirasi. Berdasarkan hal tersebut maka perawat harus memahami indikasi pemberian O2, metode pemberian O2 dan bahaya-bahaya pemberian O2.

A. Pengertian
Terapi oksigen adalah memasukkan oksigen tambahan dari luar ke paru melalui saluran pernafasan dengan menggunakan alat sesuai kebutuhan. ( Standar Pelayanan Keperawatan di ICU, Dep.Kes. RI, 2005 )
Terapi oksigen adalah memberikan aliran gas lebih dari 20 % pada tekanan 1 atmosphir sehingga konsentrasi oksigen meningkat dalam darah
Terapi oksigen adalah pemberian oksigen dengan konsentrasi yang lebih tinggi dari yang ditemukan dalam atmosfir lingkungan. Pada ketinggian air laut konsentrasi oksigen dalam ruangan adalah 21 %, ( Brunner & Suddarth,2001 )
Sejalan dengan hal tersebut diatas menurut Titin, 2007, Terapi oksigen adalah suatu tindakan untuk meningkatkan tekanan parsial oksigen pada inspirasi, yang dapat dilakukan dengan cara :
1. Meningkatkan kadar oksigen inspirasi / FiO2 ( Orthobarik )
2. Meningkatkan tekanan oksigen ( Hiperbarik )

B. Organ-organ yang terlibat dalam terapi oksigen
Bila kita membicarakan organ tubuh yang terlibat dalam terapi oksigen, maka kita harus membahas tentang organ sistem pernafasan, termasuk didalamnya anatomi dan fisiologi sistem pernafasan, peredaran darah paru yang merupakan bagian sistem kardiovaskuler dan mekanisme kontrol pernafasan secara kimiawi maupun pengaturan oleh sitem saraf.

Anatomi sistem pernafasan

Pada dasarnya anatomi sistem pernafasan terdiri dari rangkaian saluran yang menghantarkan udara dari luar yang kaya akan oksigen menuju membran kapiler alveoli yang kaya kapiler darah merupakan bagian dari sistem kardiovaskuler. Bernafas adalah pergerakan udara keluar masuk saluran pernafasan disebut juga ventilasi. Fungsi dari sistem persarafan termasuk saraf pusat adalah mengatur berlangsungnya ritme ventilasi, dengan mengatur gerakan otot dada dan diafragma.
Susunan saluran udara pernafasan dimulai dari 1)hidung, 2)faring, 3)laring, 4)trachea, 5)bronchus dan 6)bronchiolus. Ketika udara masuk melalui hidung, udara tersebut akan disaring, dihangatkan, dan dilembabkan, yang merupakan fungsi dari mukosa saluran nafas bersilia dan bersel goblet yang memproduksi mucus. Partikel debu yang kasar disaring oleh rambut yang terdapat dalam rongga hidung, sedangkan partikel yang halus terjerat dalam lapisan mucus yang melapisi mukosa. Silia akan mendorong mucus menuju faring yang kemudian akan dibatukkan atau tertelan. Kelembaban dijaga oleh air yang berasal dari lapisan mucus, sedang pemanasan diberikan oleh jaringan pembuluh darah dibawahnya, sehingga udara yang masuk hampir bebas debu, bersuhu mendekati suhu tubuh dengan kelembaban mendekati 100 % ketika mencapai faring.
Laring organ yang dibentuk tulang rawan dan otot, mengalirkan udara yang masuk dari faring menuju trakea. Selain mengalirkan udara laring mempunyai fungsi yang lebih penting sebagai organ fonasi atau organ suara dan sebagai organ pelindung. Pita suara berada di pangkal laring, dan membentuk ruang segitiga yang dinamakan glottis. Glottis merupakan antara saluran nafas bagian atas dan saluran nafas bagian bawah. Fungsi pelindung laring adalah sebagai berikut, pada waktu menelan makanan glottis menjaga agar makanan tidak masuk kedalam trachea, tetapi mengarahkan makanan masuk kedalam esophagus. Waktu menelan laring bergerak ke atas dari epiglottis akan menutup auditus laring sehingga glottis tertutup. Bila masih ada benda asing atau makanan masuk kedalam trachea, benda asing, makanan atau secret akan dibatukkan keluar saluran nafas bagian bawah.
Trachea merupakan saluran yang disokong oleh tulang rawan yang berbentuk lingkaran tidak sempurna seperti tapak kuda, sehingga permukaan posteriornya pipih. Pada pemakaian endotraheal, balon yang digelembungkan terlalu besar atau pada pemakaian yang lama, dapat menekan dinding posterior dan menimbulkan iritasi dan erosi sehingga dapat menimbulkan fistula trakheo esophageal. Erosi pada bagian anterior yang menembus tulang rawan dapat terjadi tetapi lebih jarang. Pipa dan balon dapat juga menyebabkan pembengkakan dan kerusakan pita suara. Karena itu penempatan pipa dan balon endotrakheal harus diperhitungkan baik posisinya dan tekanannya. Trachea bercabang menjadi bronchus kanan dan kiri, tempat percabangan dinamakan karina, yang terdapat banyak saraf dan dapat menyebabkan batuk dan bronchospasme jika dirangsang. Struktur trachea dan bronchus digambarkan seperti sebuah pohon dan dinamakan tracheobronchial tree atau pohon tracheobronchial.
Bronchus merupakan kelanjutan dari trachea yang mengalirkan udara ke bronchiolus, disusun oleh cincin tulang rawan. Bronchus kanan membentuk sudut yang lebih landai terhadap trachea dibandingkan bronchus kiri. Bronchus kanan juga lebih besar dan pendek, sedangkan bronchus kiri lebih kecil dan panjang. Pada pemasangan pipa endotrakheal yang terlalu dalam cenderung akan masuk ke bronchus kanan, sehingga udara tidak masuk ke bronchus kiri dan menyebabkan atelektasis paru kiri. Bila melakukan pembersihan bronchus, kateter lebih cenderung masuk ke bronchus kanan, demikian juga benda asing yang terhirup lebih sering tersangkut di bronchus kanan dari pada kiri. Akan tetapi percabangan bronchus kanan dan kiri pada neonatus lebih kurang membentuk sudut yang sama, sehingga intubasi yang terlalu dalam dapat dengan mudah menjadi endobronchial kanan dan kiri.
Selanjutnya bronchus akan bercabang menjadi bronchus lobaris kemudian menjadi bronchus segmentalis. Selanjutnya percabangan dilanjutkan menjadi bronchiolus terminalis, yaitu saluran udara terkecil dengan diameter sekitar 1 mm. Bronchiolus tidak ¬diperkuat oleh cincin tulang rawan, tetapi dikelilingi oleh otot polos, sehingga ukurannya dapat berubah. Sampai ke bronchioles terminalis, saluran berfungsi menghantarkan aliran udara menuju tempat pertukaran gas dalam jaringan paru.
Unit fungsional paru disebut juga asinus, terdapat setelah bronchiolus terminalis yaitu tempat pertukaran gas.
Asinus / lobulus primer berdiameter 0,5 - 1 cm terdiri :
1. Bronchiolus respiratorius, memiliki beberapa kantung udara / alveolus pada dindingnya
2. Duktus alveolaris dindingnya dibatasi oleh alveolus.
3. Sakkus alveolaris terminalis
Struktur akhir yang strukturnya merupakan kelompok 7)alveolus. Dari trachea sampai sakkus alveolaris terminalis terdapat 23 cabang. Alveolus dipisahkan oleh dinding tipis / septum dari alveolus disebelahnya, terdapat lubang komunikasi yang disebut pori – pori khon. alveolus hanva mempunyai satu lapisan sel saja yang lebih tipis dari diameter sel darah merah. Dalam tiap paru terdapat sekitar 300 juta alveolus, yang apabila dibentangkan menjadi seluas lapangan tenis. Untuk mencegah kolaps alveolus dilapisi oleh. surfaktan.
Paru merupakan organ yang elastis, terletak di dalam rongga dada atau toraks, berbentuk kerucut, bagian atas disebut apeks dan bagian bawah disebut basis. Hilus merupakan bagian paru tempat masuknya bronchus, pembuluh darah, pembuluh limfe. Paru kanan dan kiri dipisahkan oleh mediastinum, di dalamnnya dijumpai jantung dan pembuluh darah besar. Paru kanan lebih besar dan terbagi 3 lobus, sedangkan paru kiri lebih kecil dan terbagi 2 lobus. Pleura adalah lapisan kolagen elastis, yang melapisi dinding dada disebut pleura parietalis dan yang melapisi paru dinamakan pleura viseralis.
Diantara kedua pleura terdapat ruangan yang disebut rongga pleura, sebetulnya kedua pleura tersebut menempel karena tekanan dalam rongga tersebut lebih rendah dari tekanan atmosfir untuk mencegah paru menjadi kolaps. Kedua pleura itu hanya dilapisi oleh lapisan tipis, cairan pleura untuk memudahkan pergerakan paru, sehingga rongga pleura sebetulnya ruangan potensial saja yang baru terlihat bila terisi oleh cairan atau udara yang ada dalam jumlah yang bermakna.

Peredaran Darah Paru
Paru mendapat aliran darah dari 2 sumber yaitu arteri bronchialis dan arteri pulmonalis. Arteri bronchialis mengalirkan darah yang kaya akan oksigen untuk kebutuhan metabolisms jaringan paru, berasal dari arteri torakalis. Pembuluh darah baliknya vena bronchialis yang besar bermuara ke vena kava superior dan yang kecil mengalirkan darah ke vana pulmonalis.
Arteri pulmonalis mengalirkan darah dari ventrikel kanan ke jaringan kapiler paru yang membungkus alveolus, sehingga terjadi pertukaran gas antara udara dalam alveolus dan darah. Darah yang kaya akan oksigen dialirkan menuju atrium kiri melalui vena pulmonalis, selanjutnya ke ventrikel kiri untuk didistribusikan ke seluruh tubuh.
Sistem peredaran darah paru mempunyai tekanan rendah dan resistensi rendah. Tekanan darah paru sekitar 25/10 mmHg, dengan tekanan rata - rata 15 mmHg, dengan demikian beban kerja ventrikel kanan lebih kecil dibandingkan ventrikel kiri, tetapi pada waktu kegiatan fisik aliran darah pulmoner dapat ditingkatkan tanpa kenaikan tekanan pulmoner yang berarti.
Mekanisme Kontrol Pernafasan
Mekanisme pernafasan diatur dan dikendalikan oleh 2 faktor utama :
1. Kimiawi
Karbondioksida, produk asam dari metabolisme. Unsur kimia yang asam ini merangsang pusat pernafasan untuk mengirim keluar implus saraf yang bekerja pada otot pernafasan. Faktor kimiawi ini adalah faktor utama dalam pengendalian dan pengaturan frekuensi, kecepatan dan dalamnya gerakan pernafasan.
2. Pengendalian oleh saraf
Pusat pernafasan terletak di dalam medulla oblongata, dan kalau dirangsang maka pusat itu mengeluarkan impuls yang disalurkan oleh saraf spinalis ke otot pernafasan, yaitu otot diafragma dan otot interkostalis.
Gerakan udara keluar masuk paru disebut ventilasi. Inspirasi merupakan proses masuknya udara ke dalam paru dan ekspirasi merupakan proses keluarnya udara dari dalam paru. Inspirasi merupakan proses aktif dimana otot pernafasan yang dapat mengangkat dinding dada dan sternum termasuk diafragma bekerja untuk mengembangkan volume rongga dada dan paru, sehingga udara masuk kedalam paru. Ekspirasi adalah proses pasif pada pernafasan biasa, disebabkan elastisitas dari paru, dinding dada, diafragma, isi abdomen dan dinding abdomen.
Otot pernafasan diatur oleh pusat pernafasan yang terdiri dari neuron dan reseptor di daerah pons dan medulla oblongata. Faktor utama yang mengatur pusat pernafasan adalah kemoreseptor yang peka terhadap perubahan partial CO2 dan Ph di arteri. Penurunan tekanan partial O2 arteri juga dapat merangsang ventilasi. Kemoreseptor perifer seperti badan carotid yang terletak dipercabangan arteri karotis, badan aorta pada lengkung aorta, peka terhadap penurunan kadar O2 arteri. Refleks Hering – Breuer mengatur jumlah udara yang masuk ke dalam paru, dimana reseptor regang mengirim sinyal kepusat nafas untuk menghentikan pengembangan berlanjut dan memulai lagi pengembangan paru pada akhir ekspirasi. Penelitian menunjukan reflek ini tidak aktif pada orang dewasa kecuali bila volume yang besar melebihi 1 liter. Reflek ini penting pada bayi baru lahir. Mekanisme lain yang ikut mengatur pernafasan pada saat seperti gerakan sendi otot akan meningkatkan ventilasi, penghentian pernafasan pada saat tertawa, menangis dan tertawa.

C. Indikasi dan Kontra Indikasi
1. Indikasi
Adapun indikasi utama pemberian O2 ini adalah sebagai berikut :
a. Klien dengan kadar O2 arteri rendah dari hasil analisa gas darah,
b. Klien dengan peningkatan kerja nafas, dimana tubuh berespon terhadap keadaan hipoksemia melalui peningkatan laju dan dalamnya pernafasan serta adanya kerja otot-otot tambahan pernafasan,
c. Klien dengan peningkatan kerja miokard, dimana jantung berusaha untuk mengatasi gangguan O2 melalui peningkatan laju pompa jantung yang adekuat.
Berdasarkan indikasi utama diatas maka terapi pemberian O2 diberikan kepada klien dengan keadaan / penyakit :
a. Hypoxemia / hypoxia
b. Henti nafas dan henti jantung.
c. Gagal nafas
d. Keracunan CO
e. Asidosis
f. Shock dengan berbagai sebab
g. Selama dan setelah operasi
h. Anemia berat
i. Klien dengan gangguan kesadaran.
j. Sebelum , selama , sesudah suction
k. Nyeri dada, infark miokard akut
l. Payah jantung
m. Meningkatnya kebutuhan oksigen, seperti : luka bakar, trauma ganda, infeksi berat, demam tinggi, dll
Menurut Standar Keperawatan ICU Depkes RI tahun 2005, indikasi terapi oksigen adalah :
a. Pasien hipoksia
b. Oksigenasi kurang sedangkan paru normal
c. Oksigenasi cukup sedangkan paru tidak normal
d. Oksigenasi cukup, paru normal, sedangkan sirkulasi tidak normal
e. Pasien yang membutuhkan pemberian oksigen konsentrasi tinggi
f. Pasien dengan tekanan partial karbondioksida ( PaCO2 ) rendah.
2. Kontra indikasi
Tidak ada kontra indikasi absolut :
a. Kanul nasal / Kateter binasal / nasal prong : jika ada obstruksi nasal.
b. Kateter nasofaringeal / kateter nasal : jika ada fraktur dasar tengkorak kepala, trauma maksilofasial, dan obstruksi nasal
c. Sungkup muka dengan kantong rebreathing : pada pasien dengan PaCO2 tinggi, akan lebih meningkatkan kadar PaCO2 nya lagi.

D. Konsep Fisiologi / Pengaruh Terhadap Tubuh
O2 ditranspor dari paru ke dalam jaringan tubuh. O2 bergerak menuju ke daerah yang memiliki perbedaan tekanan. Dari alveolar ke dalam darah. Dari darah arteri ke dalam jaringan tubuh, ke dalam sel dan mitokondria.
Faktor-faktor yang berperan dalam oksigenasi yang adekuat :
1. FiO2
2. Pertukaran udara pada alveoli
3. Kandungan O2 dalam vena
4. Distribusi ventilasi perfusi
Kandungan O2 dalam darah terdiri dari :
1. O2 terlarut dalam plasma : PaO2 (mmHg) x 0,003 mL
2. Terikat dengan Hb : Hb x 1,34 x saturasi O2
Kandungan O2 = O2 terlarut + O2 terikat Hb.
Solubilitas oksigen dalam plasma 0,003 ml / dL darah / mmHg.
Kapasitas pembawa yang efektif dari Hb 1,34 mL O2/g Hb .
Fisiologi pernafasan
Proses dimana oksigen berpindah dari udara ke jaringan dan pengeluaran CO2 dari jaringan ke udara luar. Fisiologi pernafasan dibagi menjadi 4 stadium :
1. Ventilasi : Masuknya udara ke dalam dan keluar paru (Pemindahan O2&CO2 antara Atmosfir & alveolus)
2. Difusi ( Pemindahan O2 & CO2 antara Alveolus & kapiler)
3. Transportasi ( membawa O2&CO2 transport O2 ke jaringan & CO2 dari jaringan ) :
a. Respirasi eksterna, yaltu difusi gas - gas antar alveolus dan antara pembuluh darah sistemik dan sel - sel jaringan, distribusi darah dan udara dalam alveolus, reaksi kimia dan fisika antara oksigen, karbon dioksida dan darah.
b. Respirasi interna : Metabolisms didalam sel untuk menghasilkan energi
4. Pengaturan respirasi( Pengaturan secara sentral)
1. Ventilasi
Pada saat inspirasi, rongga dada membesar sehingga tekanan intra pleura menurun dari -4 mmHg, menjadi -8 mmHg, tekanan intra pulmoner atau tekanan saluran nafas menurun sampai sekitar -2 mmHg dari 0 mmHg saat dimulainya inspirasi. Hal ini menyebabkan udara masuk sampai akhir inspirasi, dimana tekanan saluran nafas sama dengan tekanan atmosfir.
Ekspirasi merupakan proses pasif karena elastisitas dinding dada, pada pernafasan biasa. Relaksasi otot pernafasan, lengkung diafragma naik menyebabkan volume toraks menurun, tekanan intra pulmoner naik sampai 1 - 2 diatas tekanan atmosfir, udara mengalir keluar.

2. Difusi

Perbedaan tekanan parsial antara darah dan fase gas merupakan kekuatan pendorong untuk perpindahan fase tersebut, melintasi membran antara alveolus dan kapiler yang sangat tipis berkisar 0,5 µm.
Tekanan parsial oksigen diatmosfir 149 mmHg, 21 % dari 760 mmHg, di alveolus turun menjadi 103 mmHg, karena tercampur uap air ruang rugi anatomik. Karena tekanan partial oksigen dalam darah lebih rendah, maka oksigen mudah berdifusi masuk kedalam aliran darah.
Perbedaan tekanan partial CO2, antara darah dan alveolus sebesar 6 mmHg, sekalipun selisihnya relatif kecil, difusi tetap memadai melintasi membran alveolus karena CO2 berdifusi 20 kali lebih cepat melewati membran alveolus dibandingkan O2
Dalam keadaan normal istirahat, difusi berlangsung kurang lebih 0,25 detik dari total kontak 0,75 detik untuk mencapai keseimbangan antara alveolus dan darah. Ruang rugi anatomik, kira - kira 1 ml per pound berat badan, sekitar 150cc/1501b.
Hubungan Oksigen Dalam Darah
Diperlukan kesesuaian antara ventilasi dan perfusi, yaitu distribusi yang merata dari udara dalam paru dan perfusi darah dalam kapiler dan sebaliknya. Pada orang normal dengan posisi tegak dan keadaan istirahat maka ventilasi dan perfusi hampir seimbang kecuali bagian apeks paru. Karena pengaruh gravitasi, sirkulasi pulmoner dengan tekanan dan resistensi rendah mengakibatkan aliran darah dibasis paru lebih besar daripada diapeks.
Dengan laju ventilasi alveolar normal (4 I/menit) nilai keseimbangan rata–rata antara ventilasi dan perfusi adalah 0,8 (V/Q adalah 0,8).
3. Transport Oksigen Dalam Darah

Eksternal dan internal respiration

Oksigen diangkut dari paru ke jaringan melalui 2 jalur, pertama secara fisik larut dalam plasma dan kedua secara kimiawi berikatan dengan hemoglobin sebagai oksihaemoglobin (HbO2).
PaO2 adalah tekanan partial oksigen di dalam darah arteri, ditentukan jumlah oksigen yang larut dalam plasma darah. Oksigen yang larut dalam plasma, jumlahnya sangat kecil sekitar 1 % dari jumlah total oksigen yang diangkut ke jaringan, karena tekanan itu tidak memadai sekalipun untuk bertahan hidup dalam keadaan istirahat. Oksigen yang terlarut plasma mempunyai hubungan dengan PaO2 (tekanan partial oksigen dalain darah alveolus) dan daya larut oksigen dalam plasma.
HbO2 (oksihemoglobin), adalah ikatan kimia antara oksigen dan hemoglobin yang bersifat reversible, 1 gram hemoglobin dapat menglkat 1,34 ml oksigen, jadi bila konsentrasi rata-rata hemoglobin dalam darah orang dewasa 15 gram per 100 ml darah, maka akan mengangkut 15 X 1,34 ml atau 20,1 ml oksigen memberikan kejenuhan total (SaO2 100 %). Tetapi darah yang meninggalkan kapiler paru mendapat sedikit campuran darah vena dari sirkulasi bronchial, sehinga tingkat kejenuhan turun menjadi 97 % dan oksigen yang diangkut dalam arterial menjadi 19,5 ml (0.97 x 20,2 ml) per 100 ml darah.
Pada tingkat jaringan,oksigen berdisosiasi dari hemoglobin dan berdifusi ke dalam plasma, yang kemudian berdifusi ke dalam sel-sel untuk memenuhi kebutuhan jaringan untuk metabolisme, sekitar 75 % hemoglobin masih berikatan dan kembali ke sirkulasi paru dalam bentuk vena campuran. Jadi hanya 25 % oksigen dalam darah arteri yang diperlukan untuk keperluan metabolisme jaringan.
Hemoglobin yang telah melepaskan oksigen disebut hemoglobin tereduksi (HHb), berwarna ungu, dan menyebabkan warna kebiruan pada darah vena, seperti yang terlihat pada vena-vena superficial. Oksihemoglobin berwarna merah terang dan menyebabkan warna kemerah-merahan pada darah arteria.
Kurva Disosiasi Oksihemoglobin
Kurva disosiasi oksihemoglobin menggambarkan afinitas hemoglobin terhadap oksigen pada berbagai tekanan partial. Berbagai tekanan partial oksigen dalam darah dihubungkan dengan kejenuhan hemoglobin, didapatkan gambaran kurva berbentuk huruf S, bagian atas mendatar dan dikenal sebagai arteri, dan bagian lebih ke bawah berbentuk curam dan dikenal sebagai bagian vena. Pada bagian datar perubahan besar pada tekanan oksigen hanya mengubah sedikit kejenuhan oksihemoglobin, berarti jumlah oksigen yang diangkut ke jaringan relatif konstan. Pada bagian vena yang curam, perubahan besar pada tingkat kejenuhan hanya terjadi sedikit perubahan tekanan partial oksigen.
Afinitas oksigen terhadap haemoglobin, penting untuk memahami kapasitas angkut oksigen, karena pangambilan oksigen oleh paru dan suplai oksigen untuk jaringan, yang dipengaruhi oleh banyak faktor.

Faktor yang mempengaruhi afinitas oksihemoglobin

Kurva disosiasi oksi hemoglobin bergeser ke kiri
(P5O) menurun Kurva Disosiasi oksihemoglobin Bergeser Ke kanan
(P50) meningkat
pH ↑ pH ↓
PCO2 ↓ PCO2↑
Suhu ↓ Suhu ↑
2,3 DPG ↓ 2,3 DPG ↑

Kurva oksihemoglobin bergeser ke kanan, afinitas hemoglobin terhadap oksigen berkurang. Pergeseran kurva sedikit ke kanan, seperti digambarkan oleh bagian vena (Ph 7,38), akan membantu pelepasan oksigen ke jaringan, hal ini dikenal sebagai efek Bohr.
Pergeseran kurva disosiasi ke kiri, menyebabkan peningkatan afinitas hemoglobin terhadap oksigen. Akibatnya pengambilan oksigen di paru meningkat, tetapi pelepasan oksigen ke jaringan terganggu.
Afinitas oksigen didefinisikan secara umum adalah PO2, yang dibutuhkan untuk menghasilkan kejenuhan 50 %. Bila kurva disosiasi bergeser ke kanan, maka P50 akan meningkat, sedangkan pergeseran kurva ke kiri P50 akan menurun. Aktivitas karbon monoksida terhadap hemoglobin sekitar 250 X lebih besar dari pada afinitas oksigen terhadap hemoglobin. Bila karbon monoksida terhirup, akan berikatan dengan hemoglobin membentuk karboksihemoglobin yang tidak reversibel, sehingga transport oksigen berkurang.
Transport Karbondioksida Dalam Darah
Transport karbondioksida dari jaringan ke paru melalui tiga cara :
1. Larut dalam plasma secara fisik : 10 %, CO2 lebih mudah larut dalam plasma dibandingkan oksigen
2. Karbaminohemoglobin : 20 % berikatan dengan gugus amino pada hemoglobin
3. Bikarbonat plasma : 70 % diangkut dalam bentuk ini
Karbon dioksida berikatan dengan bentuk reaksi berikut ini :
CO2 + H20 ↔H2CO3 ↔ H+ + HCO3-
Persamaan ini dinamakan persamaan dapar asam karbonat-bikarbonat, bersifat reversibel. Pada keadaan hiperventilasi dimana ventilasi alvorlar berlebih, akan menyebabkan alkalosis (Ph darah naik), akibat pelepasan CO2 meningkat. Dan pada keadaan hipoventilasi, dimana ventilasi alveolar, akan menyebabkan asidosis (Ph darah turun), akibat retensi CO2. Kurva disosiasi CO2, berbentuk hampir lintier, sepeni kandungan CO2, dalam darah berhubungan langsung dengan PCO2, karena itu, PCO2 merupakan petunjuk yang balk akan kecukupan ventilasi.
4. Pengaturan respirasi
Mekanisme pernafasan diatur dan dikendalikan oleh 2 faktor utama :
a. Kimiawi
Karbondioksida, produk asam dari metabolisme. Unsur kimia yang asam ini merangsang pusat pernafasan untuk mengirim keluar implus saraf yang bekerja pada otot pernafasan. Faktor kimiawi ini adalah faktor utama dalam pengendalian dan pengaturan frekuensi, kecepatan dan dalamnya gerakan pernafasan.
b. Pengendalian oleh saraf
Pusat pernafasan terletak di dalam medulla oblongata, dan kalau dirangsang maka pusat itu mengeluarkan impuls yang disalurkan oleh saraf spinalis ke otot pernafasan, yaitu otot diafragma dan otot interkostalis.
5. Kapasitas dan Volume Paru


E. Prinsip Pencegahan Infeksi
1. Humidifier harus steril dan selalu terisi aquades yang juga steril, sebatas garis bertuliskan “batas aqua” dan harus diganti / dibersihkan tiap hari, bila aqua steril hendak ditambahkan, sisa aquades sebelumnya harus dibuang terlebih dahulu.
2. Kalau perlu menggunakan humidifier dingin sekali pakai (Aquapak), yang terbukti selama pemakaian 58 hari tidak terjadi pertumbuhan kuman.
3. Awasi atau batasi pengunjung. Hindari kontak dengan orang yang menderita infeksi saluran nafas atas.
4. Turunkan faktor risiko nosokomial melalui cuci tangan yang tepat pada semua perawat.
5. Gunakan alat terapi oksigen sekali pakai, dan bila harus menggunakan yang reuse, harus disteril terlebih dahulu. Satu alat untuk satu pasien.
6. Pertahankan hidrasi adekuat dan nutrisi. Dorong cairan 2500 ml/hari (dewasa) dalam toleransi jantung.
7. Berikan isolasi pernafasan bila diindikasikan. Tergantung pada diagnosis khusus pasien memerlukan perlindungan dari orang lain atau harus mencegah transmisi infeksi ke orang lain.
8. Khusus pada ventilator yang dipakai dalam jangka waktu lama, humidifier dan sirkuit harus diganti dan disteril maksimal tiap 3 hari.

F. Prinsip / Hal Lain Untuk Terapi Oksigen
Metode Pemberian Oksigen
Dapat dibagi menjadi 2 tehnik, yaitu :
1. Sistem Aliran Rendah
Sistem aliran rendah diberikan untuk menambah konsentrasi udara ruangan, bekerja dengan memberikan oksigen pada frekuensi aliran kurang dari volume inspirasi pasien, sisa volume ditarik dari udara ruangan. Karena oksigen ini bercampur dengan udara ruangan, maka FiO2 aktual yang diberikan pada pasien tidak diketahui, menghasilkan FiO2 yang bervariasi tergantung pada tipe pernafasan dengan patokan volume tidal klien. Alat oksigen aliran rendah cocok untuk pasien stabil dengan pola nafas, frekuensi dan volume ventilasi normal, misalnya klien dengan Volume Tidal 500 ml dengan kecepatan pernafasan 16 – 20 kali permenit.
Contoh sistem aliran rendah adalah :
Low flow low concentration :
a. Kateter nasal
b. Kanul nasal / kanul binasal / nasal prong.
Low flow high concentration :
c. Sungkup muka sederhana.
d. Sungkup muka dengan kantong rebreathing
e. Sungkup muka dengan kantong non rebreathing.
a. Kateter Nasal
kateter nasal
Merupakan suatu alat sederhana yang dapat memberikan oksigen secara kontinyu dengan aliran 1 – 6 liter/mnt dengan konsentrasi 24% - 44%. Lebih jarang digunakan dari pada kanul nasal. Prosedur pemasangan kateter ini meliputi insersi kateter oksigen ke dalam hidung sampai naso faring. Persentase oksigen yang mencapai paru-paru beragam sesuai kedalaman dan frekuensi pernafasan, terutama jika mukosa nasal membengkak atau pada pasien yang bernafas melalui mulut.
Keuntungan
Pemberian oksigen stabil, klien bebas bergerak, makan dan berbicara, dan membersihkan mulut, murah dan nyaman serta dapat juga dipakai sebagai kateter penghisap. Dapat digunakan dalam jangka waktu lama.
Kerugian
Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen yang lebih dari 44%, tehnik memasukan kateter nasal lebih sulit dari pada kanula nasal, nyeri saat kateter melewati nasofaring, dan mukosa nasal akan mengalami trauma, fiksasi kateter akan memberi tekanan pada nostril, maka kateter harus diganti tiap 8 jam dan diinsersi kedalam nostril lain, dapat terjadi distensi lambung, terjadi iritasi selaput lendir nasofaring, aliran dengan lebih dari 6 liter/mnt dapat menyebabkan nyeri sinus dan mengeringkan mukosa hidung, serta kateter mudah tersumbat dan tertekuk.
b. Kanul Nasal / Binasal / Nasal Prong

Kanul nasal
Merupakan suatu alat sederhana yang dapat memberikan oksigen kontinyu dengan aliran 1 – 6 liter/mnt dengan konsentrasi oksigen sama dengan kateter nasal yaitu 24 % - 44 %. Persentase O2 pasti tergantung ventilasi per menit pasien. Pada pemberian oksigen dengan nasal kanula jalan nafas harus paten, dapat digunakan pada pasien dengan pernafasan mulut.
FiO2 estimation :
Flows FiO2
• 1 Liter /min : 24 %
• 2 Liter /min : 28 %
• 3 Liter /min : 32 %
• 4 Liter /min : 36 %
• 5 Liter /min : 40 %
• 6 Liter /min : 44 %
Formula : ( Flows x 4 ) + 20 % / 21 %
Keuntungan
Pemberian oksigen stabil dengan volume tidal dan laju pernafasan teratur, pemasangannya mudah dibandingkan kateter nasal, murah, disposibel, klien bebas makan, minum, bergerak, berbicara, lebih mudah ditolerir klien dan terasa nyaman. Dapat digunakan pada pasien dengan pernafasan mulut, bila pasien bernapas melalui mulut, menyebabkan udara masuk pada waktu inhalasi dan akan mempunyai efek venturi pada bagian belakang faring sehingga menyebabkan oksigen yang diberikan melalui kanula hidung terhirup melalui hidung.
Kerugian
Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen lebih dari 44%, suplai oksigen berkurang bila klien bernafas melalui mulut, mudah lepas karena kedalaman kanul hanya 1/1.5 cm, tidak dapat diberikan pada pasien dengan obstruksi nasal. Kecepatan aliran lebih dari 4 liter/menit jarang digunakan, sebab pemberian flow rate yang lebih dari 4 liter tidak akan menambah FiO2, bahkan hanya pemborosan oksigen dan menyebabkan mukosa kering dan mengiritasi selaput lendir. Dapat menyebabkan kerusakan kulit diatas telinga dan di hidung akibat pemasangan yang terlalu ketat.
c. Sungkup Muka Sederhana

Sungkup muka sederhana
Digunakan untuk konsentrasi oksigen rendah sampai sedang. Merupakan alat pemberian oksigen jangka pendek, kontinyu atau selang seling. Aliran 5 – 8 liter/mnt dengan konsentrasi oksigen 40 – 60%. Masker ini kontra indikasi pada pasien dengan retensi karbondioksida karena akan memperburuk retensi. Aliran O2 tidak boleh kurang dari 5 liter/menit untuk mendorong CO2 keluar dari masker.
FiO2 estimation :
Flows FiO2
• 5-6 Liter/min : 40 %
• 6-7 Liter/min : 50 %
• 7-8 Liter/min : 60 %
Keuntungan
Konsentrasi oksigen yang diberikan lebih tinggi dari kateter atau kanula nasal, sistem humidifikasi dapat ditingkatkan melalui pemilihan sungkup berlubang besar, dapat digunakan dalam pemberian terapi aerosol.
Kerugian
Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen kurang dari 40%, dapat menyebabkan penumpukan CO2 jika aliran rendah. Menyekap, tidak memungkinkan untuk makan dan batuk.Bisa terjadi aspirasi bila pasien mntah. Perlu pengikat wajah, dan apabila terlalu ketat menekan kulit dapat menyebabkan rasa pobia ruang tertutup, pita elastik yang dapat disesuaikan tersedia untuk menjamin keamanan dan kenyamanan.
d. Sungkup Muka dengan Kantong Rebreathing

Rebreathing mask
Suatu teknik pemberian oksigen dengan konsentrasi tinggi yaitu 35 – 60% dengan aliran 6 – 15 liter/mnt , serta dapat meningkatkan nilai PaCO2. Udara ekspirasi sebagian tercampur dengan udara inspirasi, sesuai dengan aliran O2, kantong akan terisi saat ekspirasi dan hampir menguncup waktu inspirasi. Sebelum dipasang ke pasien isi O2 ke dalam kantong dengan cara menutup lubang antara kantong dengan sungkup minimal 2/3 bagian kantong reservoir. Memasang kapas kering pada daerah yang tertekan sungkup dan tali pengikat untuk mencegah iritasi kulit.
FiO2 estimation :
Flows ( lt/mt ) FiO2 ( % )
• 6 : 35 %
• 8 : 40 – 50 %
• 10 – 15 : 60 %
Keuntungan
Konsentrasi oksigen lebih tinggi dari sungkup muka sederhana, tidak mengeringkan selaput lendir.
Kerugian
Tidak dapat memberikan oksigen konsentrasi rendah, kantong oksigen bisa terlipat atau terputar atau mengempes, apabila ini terjadi dan aliran yang rendah dapat menyebabkan pasien akan menghirup sejumlah besar karbondioksida. Pasien tidak memungkinkan makan minum atau batuk dan menyekap, bisa terjadi aspirasi bila pasien muntah, serta perlu segel pengikat.
f. Sungkup Muka dengan Kantong Non Rebreathing

Non rebreathing mask

Teknik pemberian oksigen dengan konsentrasi oksigen yang tinggi mencapai 90 % dengan aliran 6 – 15 liter/mnt. Pada prinsipnya udara inspirasi tidak bercampur dengan udara ekspirasi, udara ekspirasi dikeluarkan langsung ke atmosfer melalui satu atau lebih katup, sehingga dalam kantong konsentrasi oksigen menjadi tinggi. Sebelum dipasang ke pasien isi O2 ke dalam kantong dengan cara menutup lubang antara kantong dengan sungkup minimal 2/3 bagian kantong reservoir. Memasang kapas kering pada daerah yang tertekan sungkup dan tali pengikat untuk mencegah iritasi kulit. Kantong tidak akan pernah kempes dengan total. Perawat harus menjaga agar semua diafragma karet harus pada tempatnya dan tanpa tongkat.
FiO2 estimation :
Flows ( lt/mt ) FiO2 ( % )
• 6 : 55 – 60
• 8 : 60 - 80
• 10 : 80 – 90
• 12 – 15 : 90
Keuntungan :
Konsentrasi oksigen yang diperoleh dapat mencapi 90%, tidak mengeringkan selaput lendir.
Kerugian :
Tidak dapat memberikan oksigen konsentrasi rendah. Kantong oksigen bisa terlipat atau terputar, menyekap, perlu segel pengikat, dan tidak memungkinkan makan, minum atau batuk, bisa terjadi aspirasi bila pasien muntah terutama pada pasien tidak sadar dan anak-anak.
2. Sistem Aliran Tinggi
Memberikan aliran dengan frekuensi cukup tinggi untuk memberikan 2 atau 3 kali volume inspirasi pasien. Alat ini cocok untuk pasien dengan pola nafas pendek dan pasien dengan PPOK yang mengalami hipoksia karena ventilator. Suatu teknik pemberian oksigen dimana FiO2 lebih stabil dan tidak dipengaruhi oleh tipe pernafasan, sehingga dengan tehnik ini dapat menambahkan konsentrasi oksigen yang lebih tepat dan teratur.
Contoh sistem aliran tinggi :
a. Sungkup muka dengan venturi / Masker Venturi (High flow low concentration)


Masker Venturi
Merupakan metode yang paling akurat dan dapat diandalkan untuk konsentrasi yang tepat melalui cara non invasif. Masker dibuat sedemikian rupa sehingga memungkinkan aliran udara ruangan bercampur dengan aliran oksigen yang telah ditetapkan. Masker venturi menerapkan prinsip entrainmen udara (menjebak udara seperti vakum), yang memberikan aliran udara yang tinggi dengan pengayaan oksigen terkontrol. Kelebihan gas keluar masker melalui cuff perforasi, membawa gas tersebut bersama karbondioksida yang dihembuskan. Metode ini memungkinkan konsentrasi oksigen yang konstan untuk dihirup yang tidak tergantung pada kedalaman dan kecepatan pernafasan.Diberikan pada pasien hyperkarbia kronik ( CO2 yang tinggi ) seperti PPOK yang terutama tergantung pada kendali hipoksia untuk bernafas, dan pada pasien hypoksemia sedang sampai berat.
FiO2 estimation
Warna dan flows ( liter/menit ) FiO2 ( % )
• Biru : 4 : 24
• Kuning : 4 – 6 : 28
• Putih : 6 - 8 : 31
• Hijau : 8 – 10 : 35
• Merah muda : 8 – 12 : 40
• Oranye :12 : 50
Menurut Standar Keperawatan ICU Dep.Kes RI. tahun 2005, estimasi FiO2 venturi mask merk Hudson :
Warna dan flows ( liter/menit ) FiO2 ( % )
• Biru : 2 : 24
• Putih : 4 : 28
• Orange : 6 : 31
• Kuning : 8 : 35
• Merah : 10 : 40
• Hijau : 15 : 60
Keuntungan
• Konsentrasi oksigen yang diberikan konstan / tepat sesuai dengan petunjuk pada alat.
• FiO2 tidak dipengaruhi oleh pola ventilasi, serta dapat diukur dengan O2 analiser.
• Temperatur dan kelembaban gas dapat dikontrol.
• Tidak terjadi penumpukan CO2.
Kerugian
• Mengikat
• Harus diikat dengan kencang untuk mencegah oksigen mengalir kedalam mata.
• Tidak memungkinkan makan atau batuk, masker harus dilepaskan bila pasien makan, minum, atau minum obat.
• Bila humidifikasi ditambahkan gunakan udara tekan sehingga tidak mengganggu konsentrasi O2.
b. Bag and Mask / resuscitator manual

Digunakan pada pasien :
• Cardiac arrest .
• Respiratory failure
• Sebelum, selama dan sesudah suction
Gas flows 12 – 15 liter, selama resusitasi buatan, hiperinflasi / bagging, kantong resusitasi dengan reservoir harus digunakan untuk memberikan konsentrasi oksigen 74 % - 100 %. Dianjurkan selang yang bengkok tidak digunakan sebagai reservoir untuk kantong ventilasi. Kantong 2.5 liter dengan kecepatan 15 liter/menit telah ditunjukkan untuk pemberian oksigen yang konsisten dengan konsentrasi 95 % - 100 %. Penggunaan kantong reservoar 2.5 liter juga memberikan jaminan visual bahwa aliran oksigen utuh dan kantong menerima oksigen tambahan. Pengetahuan tentang kantong dan keterampilan penggunaan adalah vital :
• Kekuatan pemijatan menentukan volume tidal ( VT )
• Jumlah pijatan permenit menentukan frekuensi
• Kekuatan dan frekuensi menentukan aliran puncak
Hal – hal yang harus diperhatikan :
• Observasi dada pasien untuk menentukan kantong bekerja dengan baik dan apakah terjadi distensi abdomen
• Kemudahan / tahanan saat pemompaan mengindikasikan komplain paru
• Risiko terjadinya peningkatan sekresi, pneumothorak, hemothorak, atau spasme bronkus yang memburuk.
Syarat – syarat Resusitator manual :
• Kemampuan kantong untuk memberikan oksigen 100 % pada kondisi akut
• Masker bila dibutuhkan harus transparan untuk memudahkan observasi terhadap muntah / darah yang dapat mengakibatkan aspirasi
• Sistem katup yang berfungsi tanpa gangguan pada kondisi akut
• Pembersihan dan pendauran ketahanan kantong.
Large Volume Aerosol Sistem
a. Selang T / T piece / Briggs adaptor

Oksigen dialirkan ke humidifier, aliran harus cukup tinggi untuk menutup ventilasi pasien per menit. Dengan Oksigen T- piece memungkinkan pelembaban untuk selang ETT ( Endo Trakeal Tube ) atau trakeostomi.Tidak akan menimbulkan kondensasi dalam selang. Pada pemakaiannya, kabut harus terlihat pada ekshalasi akhir. Flow rate yang direkomendasikan adalah 10 liter/menit dengan nebuliser set untuk menjaga inspired oxygen concentration (FiO2)
b. Sungkup terbuka / Face tent
Sama dengan selang T, digunakan untuk memberikan pelembaban pada pasien di ruang pemulihan atau setelah ekstubasi. Bila pasien merasakan masker terlalu menyekap, maka masker wajah harus ditambahkan. Konsentrasi 40% dengan aliran 10-15 L/mnt (Hudak & Gallo,1997), 8-12 liter/menit : 28%-100%.
Keuntungan
Lebih nyaman untuk anak, dapat digunakan sebagai alternatif pemberian aerosol, dapat memberikan kelembaban yang tinggi.
Kerugian
Posisi face tent sulit dipertahankan, FiO2 sulit dikontrol.
c. Collar trakeostomi
Keuntungan :
• Sama dengan selang T, Memberikan pelembaban untuk pasien dengan trakeostomi,
• Gelang – gelang adaptor mencegah bunyi gemuruh selang trakeostomi.
• Bagian depan memungkinkan penghisapan tanpa melepas masker.
• Kondensasi dalam collar dapat dialirkan ke dalam selang pasien.
Kerugian :
• Sekresi dan lapisan kulit sekitar stoma dapat menyebabkan iritasi dan infeksi.
Alat terapi oksigen yang lain
a. Ventilator
Ventilator adalah suatu alat yang digunakan untuk membantu sebagian atau seluruh proses ventilasi untuk mempertahankan oksigenasi. Dapat memberikan FiO2 dari 21 % sampai 100 %. Tujuan ventilasi meknik adalah untuk mempertahankan ventilasi alveolar yang tepat untuk kebutuhan metabolic pasien dan untuk memperbaiki hipoksemia dan memaksimalkan transport oksigen.

a. Inkubator

Digunakan untuk bayi, aliran oksigen : 3 – 8 liter/menit dengan FiO2 ± 40 %
c. Anestetik sirkuit

• Memberikan oksigen selama operasi.
• Pengaturan FiO2 sesuai dengan kondisi pasien ( 21 % - 100 % )
d. CPAP sirkuit


Tidak hanya mensuplai O2 tetapi juga melatih otot pernapasan dengan memberi Continous Positive Pressure, meningkatkan ekspansi paru sehingga mencegah terjadinya atelektasis
Di berikan pada pasien :
• Selama proses weaning / penyapihan dari ventilator
• Pasien yg mengalami ggn oksigenasi tapi masih bisa bernapas secara adekuat
FiO2 dapat diatur dari 21 % sampai 100 %


Sungkup NIPPV/CPAP(high flow high concentration). c. FiO2 : 21 – 100 %
e. Oksigen Hood


Memberi oksigen sampai 100% (flow 10-15 L/mnt)
Keuntungan
• Memberi jalan untuk tindakan lebih lanjut ke daerah dada, perut, dan ekstremitas
• Toleransi oleh bayi baik
• Dapat memberikan humidifikasi hangat pada temperature yang spesifik.
Kerugian
• Bunyi berisik
• Tidak dapat untuk anak usia > 1 th
• Aliran kurang dari 5 liter/menit dapat menyebabkan CO2 Narcosis
f. Oksigen Tent
Biasanya digunakan untuk bayi, dapat memberikan konsentrasi oksigen sampai 50 % dengan aliran 10-15 liter/menit.
Keuntungan
• Dapat memberikan kelembaban dan dapat memberikan lingkungan yang sejuk untuk mengontrol suhu tubuh bayi.
Kerugian
• Tingkat kelembaban dan konsentrasi O2 selalu berubah bila oksigen tent setiap saat dibuka.

G. Hal Yang Dikaji Sebelum Tindakan
1. Tanda dan gejala hipoksemia/hipoksia :
a. Perubahan status mental (gangguan penilaian, agitasi, disorientasi, kelam pikir, letargi, dan koma)
b. Dispnea, peningkatan tekanan darah, perubahan frekuensi nadi, disritmia, sianosis sentral (tanda lanjut), diaforesis, dan ekstremitas dingin.
c. Pada hipoksia akut , perubahan terjadi pada system saraf pusat karena pusat saraf yang lebih tinggi lebih sensitive terhadap kekurangan oksigen
d. Hipoksia kronis (PPOK dan Gagal jantung kronis), dapat menimbulkan keletihan, mengantuk, apatis, tidak perhatian, dan waktu bereaksi terlambat. Dan dapat terjadi clubbing of nails.
2. Kebutuhan akan oksigen dikaji dengan hasil analisis gas darah, pulse oksimetri (SpO2), dan evaluasi klinis seperti diatas.
3. Kaji riwayat merokok pasien, merokok menyebabkan kerusakan mekanisme pembersihan mukosiliari paru, dan paralisis ciliary action, mucus menumpuk dalam saluran nafas yang dapat meningkatkan risiko infeksi, dan berkembang menjadi bronchitis kronis dan hipoksia.
4. Berapa banyak konsentrasi oksigen yang akan diberikan
5. Metode yang akan digunakan.

H. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d sekresi yang tertahan, kelembaban yang sangat tinggi atau rendah, adanya jalan nafas buatan : ETT, tracheostomi.
2. Ketidakefektifan pola nafas b/d hiper/hipo ventilasi, cemas, kerusakan persepsi/kognitif
3. Kerusakan pertukaran gas b/d ketidakseimbangan perfusi ventilasi, perubahan membran kapiler-alveoli
4. Risiko Kerusakan integritas Kulit b/d faktor risiko eksternal : mekanik (tekanan, gesekan), kelembaban udara, Iritan, substansi kimia (oksigen)
5. Cemas b/d ancaman kematian, stress.
6. Risiko teraspirasi. Faktor risiko : pemakaian oksigen masker, depresi reflek-reflek laring dan glotik sekunder akibat terpasang ETT/trakeostomi.
7. Risiko infeksi. Faktor risiko : Intubasi, trakeostomi, destruksi jaringan dan peningkatan paparan lingkungan terhadap pathogen, penurunan gerak silia, lingkungan hangat,lembab (humidifier)
8. Risiko keracunan. Faktor risiko : pemakaian terapi oksigen dengan FiO2 50 % terus-menerus lebih dari 1-2 hari, tidak ada perlindungan saat kontak dengan bahan kimia, polusi udara (eksternal), kesulitan kognisi atau emosional (internal)
9. Managemen regimen terapeutik tidak efektif b/d tindakan : kompleksitas aturan terapeutik, efeksamping terapi, Situasional : ketidakcukupan pengetahuan, kesulitan ekonomi (untuk pemberian terapi oksigen di rumah)

I. Outcome Yang Ingin Dicapai
1. NOC Diagnosa keperawatan 1 :
a. Status Respirasi : Potensi jalan nafas
b. Aspirasi terkontrol
Kriteria Hasil :
• Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dispneu (Mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips)
• Menunjukkan jalan nafas yang paten (tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi nafas dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal)
• Mampu mengidentifikasikan dan mencegah faktor yang dapat menghambat jalan nafas.
2. NOC Diagnosa Keperawatan 2 :
a. Respiratori status : ventilation
Kriteria hasil :
• Menunjukkan jalan nafas yang paten (tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi nafas dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal)
• Tanda – tanda vital dalam rentang normal (TD, nadi, pernafasan)
3. NOC Diagnosa Keperawatan 3 :
a. Respiratori status : gas exchange
b. Tissue perfusion : Pulmonary
c. Vital sign status
Kriteria hasil :
• Mendemonstrasikan peningkatan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat
• Memelihara kebersihan paru dan bebas dari tanda-tanda distress pernafasan
• Tanda-tanda vital dalam rentang normal
4. NOC Diagnosa Keperawatan 4 :
a. Tissue Integriti : skin and muccous membrans
Kriteria hasil :
• Integritas kulit dan mukosa bias dipertahankan (sensasi, elastisitas, temperature, hidrasi, pigmentasi)
• Tidak ada lesi/luka pada kulit sekitar mulut dan hidung, serta sekitar telinga.
• Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit dan perawatan alami
5. NOC Diagnosa Keperawatan 5 :
a. anxiety control
b. Coping
c. Impulse control
Kriteria hasil :
• Klien mampu mengidentifikasi atau mengungkapkan gejala cemas
• Mengidentifikasi, mengungkapkan, dan menunjukkan teknik untuk mengontrol cemas
• Vital sign dalam batas normal
• Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan tingkat aktifitas menunjukkan berkurangnya kecemasan.
6. NOC Diagnosa Keperawatan 6 :
a. Aspiration control
b. Swallowing status
Kriteria hasil :
• Klien dapat bernafas dengan mudah, irama teratur, frekuensi pernafasan normal
• Jalan nafas paten, mudah bernafas, tidak merasa tercekik dan tidak ada suara nafas abnormal.
• Tidak terjadi aspirasi pada pasien
7. NOC Diagnosa Keperawatan 6 :
a. Kontrol risiko
Indikator :
• Mengetahui risiko
• Memonitor faktor risiko dari alat, lingkungan
• Memonitor faktor risiko dari tingkah laku
• Mengembangkan strategi kontrol risiko secara efektif
• Mengidentifikasi dalam skrening untuk mengidentifikasi faktor risiko
• Memonitor perubahan status kesehatan
8. NOC Diagnosa Keperawatan 8 :
a. Knoledge : medication
b. Medication respon
c. Risk control
Kriteria hasil :
• Mengidentifikasi faktor-faktor yang meningkatkan kemungkinan terjadinya keracunan oksigen
• Mengungkapkan suatu maksud untuk melakukan tindakan-tindakan pencegahan tertentu
• Tidak terjadi keracunan oksigen
9. NOC Diagnosa Keperawatan 9 :
a. Compliance Behavior
b. Knowledge : Treatment regimen
c. Participation : Health care decisions
d. Treatment behavior : Illness or Injury
Kriteria hasil :
• Mengungkapkan maksud untuk melakukan prilaku kesehatan yang diperlukan atau keinginan untuk pulih dari penyakit dan pencegahan komplikasi tindakan terapi oksigen.
• Menggambarkan definisi, tujuan, metode, dosis, efek samping dan pencegahan terhadap komplikasi.
Tujuan terapi oksigen adalah :
1. Mencegah dan mengatasi hipoksemia / hipoksia serta mmempertahankan oksigenasi jaringan yang adekuat.
2. Menurunkan kerja nafas dan miokard.
3. Menilai fungsi pertukaran gas
Beri O2 100 % selama 30 menit, kemudian cek Analisa Gas Darah ( AGD )
AaDO2 > 200 : normal
20 – 40 : V/Q (ventilasi/perfusi) mitsmatch
40 – 60 : shunt
> 60 : ganguan difusi.

J. Persiapan Alat, Lingkungan dan Pasien Sebelum Terapi Oksigen Diberikan
1. Persiapan Alat
a. Kateter nasal.
b. Kanul nasal/binasal/nasal prong
c. Sungkup muka sederhana.
d. Sungkup muka rebreathing dengan kantong oksigen.
e. Sungkup muka non rebreathing dengan kantong oksigen.
f. Sungkup muka Venturi
g. Jelly.
h. Plester.
i. Gunting.
j. Sumber oksigen.
k. Humidifier.
l. Flow meter.
m. Aqua steril.
n. Selang oksigen.
o. Tanda dilarang merokok
2. Persiapan Lingkungan
a. Oksigen delivery system jaraknya harus dijaga tidak kurang dari 10 kaki dari sumber nyala api.
b. Oksigen bukan zat pembakar tetapi O2 dapat memudahkan terjadinya kebakaran, oleh karena itu klien dengan terapi pemberian O2 harus dihindari : merokok, membuka alat listrik dalam area sumber O2, menghindari penggunaan listrik tanpa Ground.
c. Jika menggunakan oksigen tabung/cylinders, harus dijaga pada tempatnya / diikat supaya tidak jatuh, tabung menghadap keatas, dengan pegangan yang kuat.
d. Beri tanda “ Sedang Memakai Oksigen” diatas pintu ruangan, jika digunakan dirumah, beri tanda tersebut diatas pintu masuk rumah.
3. Persiapan Pasien
a. Beri salam, panggil pasien dengan namanya dan memperkenalkan diri, tanyakan kondisi dan keluhan pasien.
b. Beri posisi yang nyaman
c. Jelaskan tujuan, prosedur dan hal yang perlu dilakukan pasien. Berikan kesempatan klien/keluarga bertanya sebelum kegiatan dilakukan
d. Orientasikan klien dan keluarganya mengenai oksigen dan set-up oksigen dan pencegahan terhadap efek samping oksigen dan bahaya terhadap kebakaran
e. Kaji budaya klien/keluarga, seperti agama Hindu dan Buda yang memakai dupa untuk sarana sembahyang supaya dijauhkan saat memakai terapi oksigen untuk mencegah terjadinya kebakaran

K. Prosedur Tindakan dan Rasional
Pre interaksi
1. Periksa catatan keperawatan dan catatan medik klien (mengetahui TTV seperti SpO2 dll, diagnosa medik, terapi, hasil laboratorium (AGD : analisa Gas Darah), metode terapi oksigen yang digunakan, dan hal lain yang diperlukan)
2. Cuci Tangan (untuk mencegah terjadinya infeksi silang)
3. Siapkan alat yang diperlukan (kelengkapan alat melancarkan pelaksanaan tindakan)
Tahap orientasi
1. Beri salam, panggil pasien dengan namanya dan memperkenalkan diri
2. Menanyakan kondisi dan keluhan pasien
3. Jelaskan tujuan, prosedur dan hal yang perlu dilakukan pasien
4. Berikan kesempatan klien/keluarga bertanya sebelum kegiatan dilakukan
Rasional : Menurunkan kecemasan klien dan keluarga, yang dapat menurunkan konsumsi oksigen, dan meningkatkan kerja sama klien. Menjamin pelaksanaan prosedur diselesaikan dengan cepat dan efisien.
Tahap Kerja
1. Katheter Nasal
a. Atur posisi pasien senyaman mungkin ( memudahkan dalam melakukan tindakan
b. Jaga privacy pasien (menjaga kesopanan perawat dan kepercayaan pasien)
c. Dekatkan alat pada tempat yang mudah dijangkau (memudahkan dan melancarkan pelaksanaan tindakan)
d. Membebaskan jalan napas dengan mengisap sekresi (syarat utama pemasangan nasal kateter adalah jalan nafas harus bebas untuk memudahkan memasukkan kateter)
e. Atur posisi pasien dengan kepala ekstensi (jalan nafas lebih terbuka , pasien lebih nyaman, kateter lebih mudah dimasukkan)
f. Untuk memperkirakan dalam kateter, ukur antara lubang hidung sampai keujung telinga ( untuk memastikan ketepatan kedalaman kateter )
g. Bila ujung kateter terlihat di belakang ovula, tarik kateter sehingga ujung kateter tidak terlihat lagi.( untuk memastikan ketepatan kedalaman kateter)
h. Membuka regulator untuk menentukan tekanan oksigen sesuai kebutuhan (Mencegah kekeringan pada membran mukosa nasal dan membran mukosa oral serta sekresi jalan nafas)
i. Mengatur volume oksigen sesuai kebutuhan (menjamin ketepatan dosis dan mencegah terjadinya efek samping)
j. Beri pelicin atau jelly pada ujung nasal kateter (memudahkan dan mencegah iritasi dalam pemasangan kateter)
k. Gunakan plester untuk fiksasi kateter antara bibir atas dan lubang hidung (mencegah kateter terlepas dan menjamin ketepatan posisi kateter)
l. Observasi tanda iritasi lubang, pengeringan mukosa hidung, epistaksis, dan kemungkinan distensi lambung. (terapi oksigen menyebabkan mukosa nasal mengering, epistaksis dan distensi lambung. Deteksi dini mengurangi risiko efek samping)
m. Kateter diganti tiap 8 jam dan dimasukkan ke lubang hidung yang lain jika mungkin (mengurangi iritasi mukosa hidung,menjamin kepatenan kateter)
2. Kanul Nasal/binasal/nasal prong
a. Letakkan ujung kanul ke dalam lubang hidung dan atur lubang kanul yang elastis sampai kanul benar-benar pas menempati hidung dan nyaman bagi klien.(Membuat aliran oksigen langsung masuk ke dalam saluran nafas bagian atas. Klien akan tetap menjaga kanul pada tempatnya apabila kanul tersebut pas kenyamanannya)
b. Hubungkan kanul ke sumber oksigen dan atur kecepatan aliran sesuai yang diprogramkan (1–6 L/mnt.) (Mencegah kekeringan pada membran mukosa nasal dan membran mukosa oral serta sekresi jalan nafas)
c. Pertahankan selang oksigen cukup kendur dan sambungkan ke pakaian pasien (Memungkinkan pasien untuk menengokkan kepala tanpa kanul tercabut dan mengurangi tekanan ujung kanul pada hidung)
d. Periksa letak ujung kanul tiap 8 jam dan pertahankan humidifier terisi aqua steril setiap waktu. (Memastikan kepatenan kanul dan aliran oksigen, mencegah inhalasi oksigen tanpa dilembabkan)
e. Observasi hidung, pengeringan mukosa hidung, nyeri sinus,epistaksis dan permukaan superior kedua telinga klien untuk melihat adanya kerusakan kulit. (terapi oksigen menyebabkan mukosa nasal mengering, nyeri sinus dan epistaksis. Tekanan pada telinga akibat selang kanul atau selang elastis menyebabkan iritasi kulit)
f. Inspeksi klien untuk melihat apakah gejala yang berhubungan dengan hipoksia telah hilang (Mengindikasikan telah ditangani atau telah berkurangnya hipoksia)
3. Sungkup muka sederhana
a. Membebaskan jalan nafas dengan menghisap sekresi bila perlu (syarat terapi oksigen adalah jalan nafas harus bebas, jalan nafas yang bebas menjamin aliran oksigen lancar)
b. Atur posisi pasien (meningkatkan kenyamanan dan memudahkan pemasangan)
c. Membuka regulator untuk menentukan tekanan oksigen sesuai dengan kebutuhan 5-8 liter/menit (Mencegah kekeringan pada membran mukosa nasal dan membran mukosa oral serta sekresi jalan nafas, menjamin ketepatan dosis, dan mencegah penumpukan CO2 )
d. Atur tali pengikat sungkup menutup rapat dan nyaman jika perlu dengan kain kasa pada daerah yang tertekan ( mencegah kebocoran sungkup, mencegah iritasi kulit akibat tekanan)
e. Memasang kapas kering pada daerah yang tertekan sungkup dan tali pengikat untuk mencegah iritasi kulit.
4. Sungkup Muka Rebreathing
a. Membebaskan jalan nafas dengan menghisap sekresi.
b. Atur posisi pasien
c. Menghubungkan selang oksigen pada humidifier
d. Membuka regulator untuk menentukan tekanan oksigen sesuai dengan kebutuhan
e. Mengatur aliran oksigen sesuai kebutuhan.
f. Isi O2 kedalam kantong dengan cara menutup lubang antara kantong dengan sungkup minimal 2/3 bagian kantong reservoir. Sesuai dengan aliran O2 kantong akan terisi waktu ekspirasi dan hampir kuncup waktu inspirasi (mencegah kantong terlipat, menjaga kepatenan sungkup, mencegah penumpukan CO2 yang terlalu banyak)
g. Mengikat tali masker O2 dibelakang kepala melewati bagian atas telinga.(menjaga kepatenan sungkup, mencegah iritasi mata)
h. Memasang kapas kering pada daerah yang tertekan sungkup dan tali pengikat (untuk mencegah iritasi kulit)
i. Muka pasien dibersihkan tiap 2 jam.(observasi terhadap iritasi,muntah,aspirasi akibat terapi, dan menjaga kenyamanan pasien)
j. Sungkup dibersihkan/diganti tiap 8 jam (menjaga kepatenan alat, mencegah infeksi, meningkatkan kenyamanan)
5. Sungkup Muka Non Rebreathing
a. Membebaskan jalan nafas dengan menghisap sekresi (k/p) (
b. Atur posisi pasien
c. Membuka regulator untuk menentukan tekanan oksigen sesuai dengan kebutuhan.(menjaga kelembaban udara, mencegah iritasi mukosa jalan nafas dan mulut)
d. Mengatur aliran oksigen sesuai kebutuhan , terapi oksigen dengan sungkup non rebreathing mempunyai efektifitas aliran 6-7 liter/menit dengan konsentrasi O2 (FiO2) 55-90 % (menjaga kepatenan sungkup, menjamin ketepatan dosis)
e. Isi O2 kedalam kantong dengan cara menutup lubang antara kantong dengan sungkup minimal 2/3 bagian kantong reservoir. (mencegah kantong terlipat, terputar)
f. Mengikat tali non rebreathing mask dibelakang kepala melewati bagian atas telinga. (mencegah kebocoran sungkup)
g. Memasang kapas kering pada daerah yang tertekan sungkup dan tali pengikat (untuk mencegah iritasi kulit).
h. Muka pasien dibersihkan tiap 2 jam. (observasi terhadap iritasi,muntah,aspirasi akibat terapi, dan menjaga kenyamanan pasien)
i. Sungkup dibersihkan/diganti tiap 8 jam (menjaga kepatenan alat, mencegah infeksi, meningkatkan kenyamanan)
6. Sungkup Muka Venturi
a. Membebaskan jalan nafas dengan menghisap sekresi
b. Atur posisi pasien
c. Membuka aliran regulator untuk menentukan tekanan oksigen sesuai dengan kebutuhan
d. Mengatur aliran oksigen sesuai dengan kebutuhan, terapi O2 dengan masker venturi mempunyai efektifitas aliran 2-15 liter/menit dengan konsentrasi O2 24- 60 % (Metode ini memungkinkan konsentrasi oksigen yang konstan untuk dihirup yang tidak tergantung pada kedalaman dan kecepatan pernafasan)
Contoh : venturi mask merk Hudson :
Warna dan flows ( liter/menit ) FiO2 ( % )
• Biru : 2 : 24
• Putih : 4 : 28
• Orange : 6 : 31
• Kuning : 8 : 35
• Merah : 10 : 40
• Hijau : 15 : 60
e. Memasang venturi mask pada daerah lubang hidung dan mulut
f. Mengikat tali venturi mask dibelakang kepala melewati bagian atas telinga
g. Memasang kapas kering pada daerah yang tertekan sungkup dan tali pengikat untuk mencegah iritasi kulit.
Terminasi
1. Evaluasi perasaan pasien, simpulkan hasil kegiatan, berikan umpan balik positif (menkaji efektifitas terapi, meningkatkan kepercayaan klien pada perawat, memudahkan untuk kontrak selanjutnya)
2. Kontrak pertemuan selanjutnya (menjamin kepercayaan klien, evaluasi keberhasilan tindakan)
3. Bereskan alat-alat (mencegah infeksi silang, alat siap pakai, menjamin kelancaran tindakan berikutnya dengan alat yang sama)
4. Cuci tangan (mencegah penularan/mengurangi penyebaran mikroorganisme)
Dokumentasi
1. Catat hasil kegiatan, metode, kecepatan aliran, kepatenan alat, dan respon pasien di dalam catatan keperawatan (menjamin dokumentasi yang baik, memudahkan pelaksanaan evaluasi, memudahkan komunikasi antar perawat dan petugas kesehatan yang lain)
Hal-hal yang perlu diperhatikan
1. Aliran yang sudah ditentukan tekanan oksigen dan lamanya pemberian harus tepat dan benar sesuai program pengobatan
2. Humidifier harus selalu terisi aquades sebatas garis bertulisan “batas aqua” dan harus diganti / dibersihkan tiap hari
3. Setiap pemberian O2,harus selalu memakai humidifier yang berisi aquades untuk mencegah kekeringan mukosa sal nafas
4. Pemeriksaan AGD secara periodik untuk menilai keberhasilan terapi oksigen
5. Pada pasien yang sadar, anjurkan untuk tidak banyak bicara selama pemberian terapi oksigen
6. Perhatikan kemungkinan regurgitasi yang dapat menyebabkan aspirasi
7. Perhatikan kemungkinan adanya tanda-tanda cyanosis pada bibir,ujung jari tangan dan ujung jari kaki
8. O2 bukan zat pembakar tetapi O2 dapat memudahkan terjadinya kebakaran, oleh karena itu klien dengan terapi pemberian O2 harus dihindari : merokok, membuka alat listrik dalam area sumber O2, menghindari penggunaan listrik tanpa Ground.

L. Evaluasi dan Dokumentasi pada Terapi Oksigen
1. Observasi dan catat terhadap penurunan kecemasan, peningkatan pengetahuan, penurunan kelemahan, penurunan frekuensi nafas, perubahan warna kulit, peningkatan saturasi oksigen
2. Monitor dan dokumentasikan hasil analisa gas darah dan pulse oksimetri untuk menilai keefektifan terapi oksigen. Therapy Oksigen berhasil jika : Nilai PaO2 dan PaCO2 yang diharapkan tercapai : PaO2 = ( 4 – 5 ) x FiO2
3. Monitor dan dokumentasikan kulit disekitar telinga, hidung , mukosa hidung terhadap iritasi.
4. Monitor dan dokumentasikan terjadinya efek samping / bahaya terapi oksigen yang lain
5. Observasi dan catat posisi alat (kanula/masker, dll) yang tepat pada pasien .
6. Catat metode yang digunakan, berapa liter/ menit alirannya atau berapa FiO2 yang diberikan.

M. Hal Lain yang Diperlukan Untuk Memperjelas Konsep Dasar dan Prosedur Tindakan
1. Humidifier.
Humidifier merupakan salah satu kelengkapan yang penting dalam memberikan terapi 02, untuk mengetahui lebih lanjut kita perdu tabu tentang definisi, tujuan pemakaian humidifier, dan jenis humidifier.
a. Definisi
Humidifier adalah alat pelembab udara (Smeltzer & Bare, 2008). Proses penambahan air ke gas (oksigen) yang merupakan humidifikasi (Perry & Potter, 2006). Fucker, Canobbio, Paquette, dan Wells (2000) menyebutkan humidifier merupakan alat yang digunakan untuk memberikan kelembapan dengan gelembung- gelembung udara pada saat terapi oksigen. Jadi humidifier merupakan alat humidifikasi atau penambahan kadar air dalam udara (oksigen) sehingga dicapai kelembaban tertentu.
Penggunaan humidifier dalam terapi oksigen merupakan tambahan yang penting karena selain sebagai pelembab oksigen juga sebagai konektor selang oksigen (nasal / masker) yang ke pasien. Selang nasal / masker tidak dapat langsung di sambungkan dengan sumber oksigen. (Perry & Potter, 2006).
b. Tujuan pemakaian humidifier.
Humidifier merupakan alat humidifikasi, diperlukan saat pemberian oksigen sebagai pelembab udara. Kelembapan udara dapat mencegah mukosa saluran pernafasan atas mengalami kekeringan dan iritasi. Humidifikasi juga sangat bermanfaat sebagai ekspektoran yang mudah untuk mempertahankan sekresi. Humidifikasi dibutuhkan karena oksigen dari sentral maupun tabung bersifat kering (Kozier, Erb, Berman, & Snyder, 2004). Pasien yang mengalami gangguan pelembaban seperti dilakukan bypass (penggunaan endotrakheal atau trakheostomi). Pasien yang dilakukan bypass dapat memakai humidifier kering bila oksigen yang diberikan kurang dari 40% dan kurang dari 4 jam (Hilton, 2004).
c. Jenis humidifier

Humidifier dingin/aktif humidifier hangat/pasif

Sebagai alat pelembab udara / oksigen, humidifier mempunyai beberapa jenis humidifier. Saraswati (2008) humidifier dibagi menjadi humidifier aktif yaitu humidifier yang mengeluarkan gelembung udara dari tabung yang berisi air teraliri oksigen dan humidifier pasif merupakan pelembab udara yang menggunakan alat pemanas. Hilton (2004) membagi ada humidifier hangat dan humidifier dingin. Pembagian humidifier menurut Saraswati dengan Hilton secara umum sama yaitu humidifier aktif sama dengan humidifier dingin sedang humidifier pasif sama dengan humidifier hangat.
Humidifier hangat merupakan alat pelembab udara dengan melepaskan uap air atau embun dari air hangat. Pemanasan air dilakukan dengan mesin listrik sehingga air mendidih.Humidifier tipe ini digunakan pada terapi oksigen dengan cara closed system yang digunakan pada ventilator (Rita, 2001).
Humidifier dingin adalah pelembab udara dengan suatu alas akan melepaskan uap / droplet air yang dingin. Humidifier tipe ini diberikan pada terapi oksigen yang alirannya dapat bernafas spontan lewat jalan nafas atas. Humidifier ini, secara konvensional dengan teknik mengalirkan oksigen melalui air yang akhirnya akan timbul gelembung - gelembung udara yang akan mendorong uap air ke udara (Rita, 2001). Kelembaban yang dihasilkan kurang lebih 72,5% sampai 78,7% pada suhu ruangan. (Waugh & Granger, 2004). Weber, Palmer, Jaffar dan Mulholland ( 1998) menyatakan bahwa di daerah cuaca tropis, kelembaban akan mengalami penurunan, yang didapat hanya 34-56%. Humidifier dingin secara luas menggunakan humidifier yang dapat digunakan berulang-ulang. Penggunaan humidifier ini perlu diperhatikan beberapa hal antara lain reservoir (tabung humidifier) harus dalam kondisi bersih, air dalam humidifier harus air steril dan diganti setiap 24 jam, dan reservoir harus diisi segara sebelum dipakai, bila cairan hendak ditambahkan sisa cairan harus dibuang dahulu (Panmed Dalin DosokRSU Dr.Soetomo Surabaya, 2000).
Kemajuan teknologi memunculkan penemuan baru yaitu humidifier yang sekali pakai (aquapak). Yamashita. Nishivama, Yokoyama, Abe, Manabe„ Nishivama, Yokoyama, Abe, dan Manabe, (2005) menyebutkan bahwa dengan aquapak penggunaan selama 58 hari secara terns menerus tidak ditemukan pertumbuhan bakteri. Pemakaian aquapak ini perlu dipertimbangkan efisiensinya karena pemakaian pada klien yang mobilitas tinggi sangat membebani biaya klien (Yamashita, at al. 2005). Kondisi tersebut kurang sesuai dengan ruangan jantung dan ruang observasi intensif yang rata-rata pemakaian humidifier 1-7 hari (buku laporan ruang jantung dan ROI RSU Dr. Soetomo Surabaya 2008).
Penggunaan humidifier penting pada terapi oksigen, tetapi beberapa buku menyebutkan bahwa terapi oksigen yang menggunakan nasal kanul dengan kecepatan aliran oksigen kurang dari 4 LPM tidak perlu memakai humidifier (Perry & potter, 2006). Hilton (2004) menyebutkan bahwa pemberian non humidifier- tidak boleh lebih dari 4 Jam. Kenji (2004) melakukan penelitian dengan demonstrasi matematika. Menyimpulkan bahwa pemakaian oksigen 4¬5 LPM tidak membutuhkan humidifier karena aliran oksigen 4-5 LPM dengan menggunakan alat nasal kanul atau simpel masker, masih dipengaruhi oleh udara ruangan. Kelembapan udara ruangan masih mencukupi untuk membantu kelembapan terapi oksigen yang diberikan.
Campbell, Baker, dan Crites (1988) melakukan penelitian bahwa pemakaian humidifier dengan diisi air atau tidak diisi air dengan aliran oksigen kurang dari 5 liter per menit selama perawatan, setiap harinya masih ditemukan keluhan kekeringan pada mukosa hidung. Non humidifier masih dapat menjadi pilihan terapi karena dapat mengurangi biaya dan mempermudah tugas perawat pada waktu perawatan tabung (Campbell, Baker, & Crites, 1988).
Nakamura, Mori, Takizawa, dan Kawakami (1996) menambahkan bahwa pemakaian non humidifier selama 8 jam tidak merusak mukosa hidung. Penelitian diatas menunjukkan bahwa pemakaian non humidifier dapat dipergunakan selama pasien dirawat di rumah sakit. Non humidifier dapat dihentikan pemakaiannya bila terapi oksigen lebih dari 5 liter per menit, seperti yang di sebutkan Uyainah (2006) memastikan bahwa terapi oksigen dengan FiO, lebih dari 44% dapat mengakibatkan keringnya mukosa.
Pencegahan pertumbuhan bakteri pada tabung humidifier sangat penting dilakukan meski penelitian sebelumnya tidak menyebutkan kejadian infeksi nosokomial dengan adanya bakteri pada humidifier. Staffer, at al (1996) menyebutkan bahwa terdapatnya bakteri pada humidifier akibat masuknya bakteri yang ada diudara atau diri pasien. Aerosol bakteri yang terdapat dalam air humidifier atau bakteri yang ada di selang oksigen dapat menjadikan infeksi nosokomial, Aliran oksigen yang rendah dapat menjadi penyebab pertumbuhan bakteri (Staffer, at al. 1996). Penelitian sebelumnya menemukan bakteri yang tumbuh di humidifier diantaranya Pseudomonas Afaltol)hilia, Pseudomonas .Aeruginosa, Klebsiella Pneumoniae, dan Staphylococcus Epidermidis (Cameron, 1987). Cahill dan Heath (1990) menambahkan bakteri yang muncul Enterobacter Agglomerans, Serratia, and Bacillus.bakteri dan mengontrol osmosis. Beberapa bakteri tidak membutuhkan oksigen tapi ada yang membutuhkannya, pH dan temperature juga berpengaruh pada pertumbuhannya, kebanyakan bakteri tumbuh dengan baik pada medium yang netral atau sedikit alkali (pH 7,2- 7,6) dengan temperatur optimal pada suhu tubuh sekitar 37°C (Gibson, 1990).Bakteri yang berada di lingkungan/ kondisi kurang baik, akan mati atau mengubah dirinya menjadi spora. Spora dewasa dapat bertahan dalam keadaan itu hingga tahun, sampai menemukan tempat/ lingkungan yang baik (Culloch, 2000). Bakteri yang di dapat di lingkungan / udara rumah sakit antara lain Staphilococus Epidermidis, Bacillus sp, dan SIuphilococus Aureus (Handiyani, 2001). Bakteri yang terdapat pada daerah mukosa hidung, oropharyng, dan mulut yaitu Staphilococus Epidermidis, Staphilococus Aurcus, Staphilococus Pticulnomac, Staphilococus Afulans, Laclobacillus, Bacteroides, dan Actinomyces (Kozier, Erb, Berman, & Snyder, 2004).
Pertumbuhan bakteri.
Bakteri tumbuh dengan membelah, dalam waktu yang singkat akan terbentuk koloni. Waktu pembelahan setiap bakteri berbeda, umumnya antara 1-3 jam, tetapi ada yang 24 jam atau lebih. Kondisi yang ideal keadaan yang baik, waktu pembelahan dapat sekitar 20 menit, misalnya pada bakteri E.Coli. Bakteri yang memiliki waktu pembelahan yang panjang adalah Micobacterium tuberculosis yaitu sekitar 15 jam (Tim Mikrobiologi FK Unibraw, 2003). Waktu petumbuhan bakteri sangat cepat dapat di lihat dari hasil penelitian yang dilakukan Handayani (2006) dimana seragam klinik yang dipakai petugas kesehatan (mahasiswa) pada hari pertama, kurang lebih kontak dengan pasien 8-10 jam sudah ditemukan adanya pertumbuhan bakteri Pertumbuhan bakteri dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranya : air, dimana bakteri akan mati atau mati suri jika terlalu kering, zat-zat organik yang dibutuhkan bakteri sebagai cumber energi untuk aktifitas metaboliknya, garam-garam anorganik (fosfat, sulfat, magnesium, kalsium, besi, seng, tembaga, kobal dan molybdenum) penting untuk sistem enzim di dalam bakteri dan mengontrol osmosis. Beberapa bakteri tidak membutuhkan oksigen tapi ada yang membutuhkannya, pH dan temperature juga berpengaruh pada pertumbuhannya, kebanyakan bakteri tumbuh dengan baik pada medium yang netral atau sedikit alkali (pH 7,2-7,6) dengan temperature optimal pada suhu tubuh sekitar 37 derajat Celcius Gibson,1990).
2. Efek samping dan Komplikasi Terapi Oksigen
a. Keracunan Oksigen
Patofisiologi toksisitas oksigen tidak dimengerti dengan baik, tetapi berkaitan dengan penghancuran dan penurunan surfaktan, pembentukan lapisan membran hialin paru, dan terjadinya edema paru yang bukan berasal dari jantung ( Brunner & Suddarth,2001 ). Keadaan ini dapat merusak struktur jaringan paru seperti atelektasis dan kerusakan surfaktan. Akibatnya proses difusi di paru akan terganggu. Keracunan oksigen ini dapat terjadi bila oksigen diberikan dengan fraksi lebih dari 50% terus-menerus selama 1-2 hari. Apabila O2 80-100% diberikan kepada manusia selama 8 jam atau lebih, saluran pernafasan akan teriritasi, menimbulkan distres substernal, kongesti hidung, nyeri tenggorokan dan batuk. Pemajanan selama 24-48 jam mengakibatkan kerusakan jaringan paru. Kerusakan jaringan paru terjadi akibat terbentuknya metabolik oksigen yang merangsang sel PMN dan H2O2 melepaskan enzim proteolotik dan enzim lisosom yang dapat merusak alveoli( Razi, 2008 ). Oksigen murni akan menyebabkan kerusakan atau iritasi mukosa saluran pernafasan. Mukosa saluran pernafasan ini mengandung faktor – faktor pertahanan tubuh, diantaranya adalah PMN diatas, selain itu juga mengandung imunoglobulin (IgA), interferon, dan antibiotik spesifik (Price,1995). Kerusakan lapisan ini akan memperparah keadaan suatu penyakit dan menyebabkan kolaps paru yang berakhir dengan kegagalan nafas dan kematian (Hole,1993).
First Signs :
a. Retro sternal depression
a. Extreme numb
b. Nausea, vomiting
c. Dyspnea, cough
d. Anxieties
e. Appetite decrease
Second Signs :
a. Worst Dyspnea
b. Cyanosis
c. Respiratory gets worst progressively
Pencegahan toksisitas oksigen dicapai dengan menggunakan oksigen hanya bila diresepkan. Jika diperlukan konsentrasi tinggi, lamanya dijaga agar tetap minimal dan dikurangi secepatnya(Brunner & Suddarth,2001). Penggunaan oksigen konsentrasi tinggi dalam waktu yang lama tidak berarti tidak boleh dilakukan. Konsentrasi oksigen 100 % dapat diberikan kalau memang masih diperlukan. Setalah hipoksia teratasi secara bertahap konsntrasi oksigen harus diturunkan serendah mungkin selama SaO2 lebih dari 96 % (Materi Pelatihan ICU RSUP Dr. Soetomo,2005). Penggunaan PEEP (Positive End Expiratory Pressure) atau CPAP ( Continous Positive Airway Pressure ) sering dilakukan dalam kaitannya dengan terapi oksigen untuk mencegah microatelektasis, dan dengan demikian memungkinkan penggunaan oksigen dengan persentase yang lebih rendah.
b. CO2 Narkosis
Pada pasien PPOK, rangsang pernafasannya adalah penurunan oksigen darah, bukan peningkatan kadar CO2. Dengan demikian pemberian konsentrasi oksigen yang tinggi akan menyingkirkan dorongan bernafas yang sudah dibentuk sebagian besar oleh tekanan oksigen rendah yang kronis pasien. Akibat penurunan ventilasi alveolar tersebut dapat menyebabkan peningkatan progresif tekanan karbondioksida (PaCO2), akhirnya mengarah pada kematian akibat narkosis CO2 dan asidosis.
c. Microatelektasis
Disebabkan oleh penurunan gas nitrogen dan surfaktan di alveoli.
d. Fibroplasia Retrolental pada bayi prematur
Pada bayi prematur, kapiler retinanya sangat sensitif terhadap pemberian oksigen yang tinggi. Oksigen dengan persentase yang tinggi akan merangsang immature capillary retina untuk spasme dan proliferasi (Titin,2007), sehingga merusak retina dan menyebabkan kebutaan. Oleh karena itu PaO2 harus dijaga antara 60 – 80 mmHg.
e. Barotrauma
Disebabkan oleh tekanan udara yang tinggi, seperti :
Empisema mediastinum
Pneumothorax
Dapat terjadi pada pasien dengan :
1). Pasien dengan ventilator
• Oleh karena PEEP yang terlalu tinggi dan volume yang besar
• Fighting / melawan mesin
2). Pasien dengan bag and mask
• Tekanan / volume yang tinggi
• Not sincronize
3) Pasien yang diberi oksigen scara langsung ( wall outle / O2 cylinder ) tanpa melalui flow meter.
f. Depresi nafas
Pada pasien gangguan paru tertentu, misalnya PPOK, pemberian oksigen konsentrasi tinggi bukannya membantu, tapi kemungkinan dapat menekan ventilasi akibat loss of “ Hypoxic drive “
g. Meledak dan Kebakaran
Karena oksigen mempunyai sifat kombusi (mudah terbakar), selalu ada bahaya api ketika menggunakan oksigen. a. Don't use electricity tools during O2 therapy
Dilarang merokok dekat pasien yang mendapat terapi oksigen
Pastikan tangan bebas dari minyak saat membuka O2 tube
Letakkan O2 tube jauh dari sumber api dan sinar matahari langsung.
h. Infeksi
Peralatan terapi oksigen juga potensial sebagai sumber infeksi silang bakteri dan karenanya selang harus sering diganti, tergantung kebijakan pengendalian infeksi dan jenis peralatan pemberian oksigen. Air humidifier juga dapat sebagai media pertumbuhan kuman, oleh karenanya harus dibersihkan dan diganti tiap hari.
j. Aspirasi bila pasien muntah.
k. Perut kembung
l. Gangguan gerakan silia dan selaput lendir (mucus blanket)
3. Syarat – syarat terapi oksigen
a. Bebaskan jalan nafas sebelumnya
b. Konsentrasi O2 udara inspirasi dapat dikontrol
c. Tidak terjadi penumpukan CO2
d. Mempunyai tekanan jalan nafas yang rendah
e. Ekonomis, efisien
f. Nyaman untuk pasien
g. Sistem Humidifikasi
h. Pemantauan tanda-tanda klinis
i. Pemantauan analisa gas darah
4. Koreksi Kebutuhan Oksigen
PAO2 = ( 760 - 47 ) x FiO2 – PaCO2
AaDO2 = PAO2 – PaO2
FiO2 = AaDO2 + 100 x 100 %
760
Keterangan :
a. PAO2 : Tekanan O2 dalam alveolus
b. PH2O : Tekanan uap air ( 47 % )
c. PaO2 : Tekanan parsial O2 arteri
d. FiO2 : Fraksi inspirasi O2 ( % )
e. P bar : Tekanan Barometrik (760 mmHg)
f. AaDO2 : Perbedaan tekanan alveolar - arteri
5. Tipe kekurangan oksigen dalam tubuh
a. Hipoksemia
Hipoksemia adalah suatu keadaan dimana terjadi penurunan konsentrasi oksigen dalam darah arteri (PaO2) atau saturasi O2 arteri (SaO2) dibawah nilai normal (nilai normal PaO285-100 mmHg), SaO2 95%. Hipoksemia dibedakan menjadi ringan sedang dan berat berdasarkan nilai PaO2 dan SaO2. hipoksemia ringan dinyatakan pada keadaan PaO2 60-79 mmHg dan SaO2 90-94%, hipoksemia sedang PaO2 40-60 mmHg, SaO2 75%-89% dan hipoksemia berat bila PaO2 kurang dari 40 mmHg dan SaO2kurang dari 75%. Umur juga mempengaruhi nilai PaO2 dimana setiap penambahan umur satu tahun usia diatas 60 tahun dan PaO2 80 mmHg maka terjadi penurunan PaO2 sebesar 1 mmHg. Hipoksemia dapat disebabkan oleh gangguan ventilasi, perfusi, hipoventilasi, pirau, gangguan difusi dan berada ditempat yang tinggi
Keadaan hipoksemia menyebabkan beberapa perubahan fisiologi yang bertujuan untuk mempertahankan supaya oksigenasi ke jaringan memadai. Bila tekanan oksigen arteriol (PaO2) dibawah 55 mmHg.kendali nafas akan meningkat, sehingga tekanan oksigen arteriol (PaO2) yang meningkat dan sebaliknya tekanan karbondioksida arteri (PaCO2) menurun.jaringan Vaskuler yang mensuplai darah di jaringan hipoksia mengalami vasodilatasi, juga terjadi takikardi kompensasi yang akan meningkatkan volume sekuncup jantung sehingga oksigenasi jaringan dapat diperbaiki. Hipoksia alveolar menyebabkan kontraksi pembuluh pulmoner sebagai respon untuk memperbaiki rasio ventilasi perfusi di area paru terganggu, kemudian akan terjadi peningkatan sekresi eritropoitin ginjal sehingga mengakibatkan eritrositosis dan terjadi peningkatan sekresi eritropoitin ginjal sehingga mengakibatkan eritrositosis danterjadi peningkatan kapasiti transfer oksigen. Kontraksi pembuluh darah pulmoner, eritrositosis dan peningkatan volume sekuncup jantung akan menyebabkan hipertensi pulmoner. Gagal jantung kanan bahkan dapat menyebabkan kematian.
b. Hipoksia
Hipoksia adalah kekurangan O2 ditingkat jaringan. Istilah ini lebih tepat dibandingkan anoksia, sebab jarang dijumpai bahwa benar-benar tidak ada O2 tertinggal dalam jaringan, secara tradisional, hipoksia dibagi dalam 4 jenis. Berbagai klasifikasi lain telah digunakan namun sidtim 4 jenis ini tetap sangat berguna apabila masing-masing definisi istilah tetap diingat. Keempat kategori hipoksia adalah sebagai berikut :
1). Hipoksia hipoksik (anoksia anoksik) yaitu apabila PO2 darah arteri berkurang
2). Hipoksia anemik yaitu apabila O2 darah arteri normal tetapi mengalami denervasi maupun pada ginjal yang diangkat (diisolasi) dan diperfusi
3). Hipoksia stagnan; akibat sirkulasi yang lambat merupakan masalah bagi organ seperti ginjal dan jantung saat terjadi syok
4). Hipoksia histotoksik; hipoksia yang disebabkan oleh hambatan proses oksidasi jaringan paling sering diakibatkan oleh keracunan sianida

N. Pendidikan yang Perlu Diberikan pada Pasien dan Keluarga
1. Beri informasi klien dan keluarga tentang pentingnya dan rasionalisasi terapi oksigen
2. Ajarka klien dan keluarga tentang pencegahan terhadap bahaya penggunaan oksigen
3. Ajarkan klien dan keluarga tentang tanda dan gejala keracunan oksigen dan retensi CO2.
4. Ajarkan klien dan keluarga teknik alternative komunikasi untuk menurunkan frustasi.
5. Klien dengan alat terapi oksigen menetap di rumah ( permanent tracheostomy), harus diajarkan kepada klien,keluarga dan care giver tentang perawatan trakeostomi dan teknik suction.

O. Evidence Base Terapi Oksigen.
1. Oksigen merupakan satu dari beberapa agen terapeutik yang efektif. Terapi oksigen bermanfaat untuk mengatasi hipoksemia pada pasien yang tidak mengalami masalah paru, mupun pada pasien PPOK eksaserbasi akut, dimana oksigen juga menurunkan vasokonstriksi paru dan kerja jantung kanan serta menurunkan iskemia miokard. Dimana hasilnya adalah terjadinya perbaikan cardiac output. Pada penambahan oksigen, terbukti (fakta) dapat memperbaiki oksigen ke paru , meningkatkan pertahanan paru dan membantu transport mucosiliari dan pembersihan mucus.
Perhatian utama pada pemberian oksigen untuk pasien PPOK eksaserbasi akut adalah terjadinya peningkatan CO2 (hiperkarbia) dan peningkatan risiko gagal nafas. Pemberian oksigen tetap pada level rendah (24-28 %), ternyata juga dapat menyebabkan kemungkinan terjadinya hiperkarbia, sehingga harus digunakan dengan hati-hati (Snow & oders, 2001)

2. Perawat dianggap sebagai seorang yang ahli di area masing-masing, yang dibekali dengan kemampuan dalam memberikan advokasi kepada klien, kepemimpinan klinis dan kemampuan dalam berkolaborasi dalam pemberian pelayanan kesehatan. Perawat di ruang keperawatan medikal bedah bertugas sebagai perawat medikal bedah (KMB), pendidik, manajer kasus, konsultan, dan peneliti untuk merencanakan atau meningkatkan asuhan keperawatan. Perawat KMB dituntut memiliki peran yang lebih besar dalam memberikan asuhan keperawatan khususnya dalam menerapkan konsep - konsep keperawatannya, memiliki analisa dan mampu berfikir kritis dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan konsep teori, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terkini (Ellies & Hardley, 2003).
Oksigen merupakan obat, sehingga pemberiannya haruslah hati - hati supaya tidak terjadi intoksikasi. Sesuai dengan peran perawat, dituntut untuk menerapkan konsep terapi oksigen yang tepat. Memiliki analisa dan berfikir kritis dimana terapi oksigen membutuhkan penggunaan humidifier, sehingga perawat harus mengevaluasi penggunaan air, penggantian air dan pembersihan humidifier. Evaluasi humidifier sangat penting guna mencegah pertumbuhan bakteri untuk pencegahan infeksi nosokomial. Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada saat ini tersedia humidifier yang sekali pakai yang dapat mencegah terjadinya pertumbuhan bakteri tetapi karena harganya yang mahal disarankan menggunakan humidifier tanpa diisi dengan air. Sebagai perawat yang mempunyai pemikiran kritis diharapkan dapat memanfaatkan humidifier tanpa air sesuai dengan teori dan perlu melakukan penelitian pemakaian humidifier tanpa air dengan pertumbuhan bakteri sehingga dapat dijadikan sebagai evidence-based.



DAFTAR PUSTAKA

Astowo. Pudjo, 2005, Terapi oksigen : Ilmu Penyakit Paru. Bagian Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi, Jakarta : FKUI
Budi Santosa, 2005, Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006, Jakarta : Prima Medika
Carpenito L.J, 2000, Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8, Jakarta : EGC.
Direktorat Keperawatan dan Keteknisian Medik, 2005, Standar Pelayanan Keperawatan di ICU, Jakarta : Dir Jen Pelayanan Medik Dep.Kes RI
Herlina Raleda, 2001, Keperawatan Kardiovaskuler Edisi 1, Jakarta : Pusat Kesehatan Jantung dan Pembuluh Darah Nasional Harapan Kita.
Hudak & Gallo, 1997, Keperawatan Kritis : Pendekatan Holistik, Volume 1, Edisi VI, Jakarta : EGC.
Linelle N.B.Pierce, 1995, Mechanical Ventilation and Intensive Respiratory Care, Philadelpia : W.B.Saunders
Loyd Y , 2006, Terapi Oksigen, Jakarta : Instalasi Rawat Intensif RSUP Fatmawati
Narsih , 2007, Terapi Oksigen, Yogyakarta : Instalasi Rawat Intensif RSUP Dr.Sarjito.
Instalasi Rawat Intensif & Reanimasi, SMF Anestesiologi dan Reanimasi RSUP Dr. Soetomo, 2007, Materi Pelatihan Intensif Care Unit (ICU), Surabaya : Bidang Diklit RSUP Dr. Soetomo.
Potter & Perry, 2002, Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses, dan Praktik Volume 2, Edisi 4, Jakarta: EGC
Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, 2001, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth, Edisi 8, Jakarta : EGC.
http://en.wikipedia.org/wiki/oxygen_toxicity
http://nursingbegin.com/terapi-oksigen/
http://razimaulana.wordpress.com/2008/11/02/terapi-oksigen/